jump to navigation

Beban Siswa SD March 28, 2007

Posted by agusza in Sekolah.
trackback

Anak SD di Indonesia sudah biasa dibebani pelajaran dan tugas yang cukup berat dari sekolah. Ini kenyataan memang.

Tapi dengan beban seberat itu, mari kita bandingkan sibuk mana coba dengan anak jepang.

SD di Jepang pergi pagi jam 7, pulang jam 3, terus ngerjakan PR, makan, main sebentar / nonton TV, tidur.

PR nya sak arat-arat (banyak sekali), kadang matematika 3-5 lembar purinto (A4 print), terus kanji bbrp halaman harus tuntas, dilanjut catatan harian nikki, yg mengharuskan bapaknya tanda tangan. Minta waktu dia untuk ngaji saja, kadang kita ortu masih mikir kasihan, tsukareta, atau jikan ga nai (sdh ga ada waktu), hayane hayaoki (tidur cpt bangun cpt), dsb.

Bandingkan kita dulu, yang kayaknya sangat sempat bal-balan, main layangan, mblakrak ke kampung lain, nonton ke stadion tambak sari, malam masih jagongan, main sembunyi2an, andok rujak (jajan), dst. Apalagi saya masih sempat njalankan hobi, pagi sebelum berangkat atau sore masih sempat TPA / TPQ, dst. Dan sepertinya anak sekarang juga gak jauh2 amat. Jadi menurut saya topiknya saja yg perlu dipercantik (tdk usah yg transversal longitudinal, ganti saja dengan zainal, he..he..). Adapun jumlah beban (berakibat waktu belajarnya), sepertinya tidak ada masalah, malah kelihatan enak banget. Itsumo hima (longgar)… coba saja kalau ada undangan, sering ga perlu pakai jam, misalnya ckp istilah habis asar, habis isya, nah itu kan saking himanya, he he…

Alhamdulillah semua yang baca email ini nampaknya waktu kecilnya juga gitu, malah ada yang lebih mbethik (mbeling) lagi, tapi hari ini mereka ada di Jepang, sedang kuliah di Hiroshima University, Alhamdulillah… malah ada yg ndobel kuliah di JICA, Asahi, Chugoku, Itami, dll, he..he..he..

Comments»

No comments yet — be the first.