Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Atur Skenario Studi

Leave a comment

Rekan2, ada sedikit masukan barangkali bermanfaat, khususnya untuk yang  (berencana akan / baru masuk / sedang) S3.

Akhir-akhir ini saya lihat trend baru yang ckp menakjubkan, yakni rekan2 saya yang baru datang, langsung pada ambil SKS di luar kampus, alias baito (part time job). Saya kira tujuannya baik2 saja, yakni menunjang biaya keluarga, nyarikan jajan anak, kirim2 wesel, nabung utk bikin rumah di kampung nanti, dsb. Bahkan lebih dari itu, cari pengalaman bgm sih kerja dg nihonjin, bgm menyadari nilainya uang (jd ga boros), dsb. Inipun tujuan yg baik.
Tapi kita tdk bisa menutup mata, bahwa baito itu sedikit banyak akan mengurangi konsentrasi sekolah, kekhusyuan baca buku, ketenangan diskusi di lab, dsb.

Nah maksud tulisan saya ini adalah mohon rekan2 yg baru datang untuk mempertimbangkan kembali, bilamana tertarik teman2 yg lain mau baito. Sebab kemampuan orang berbeda2. Ada yg dg baito saja, bisa dapet banyak anak, banyak paper, banyak dana riset, atau malah bisa lulus belum waktunya. Tapi tidak kurang juga akibat baito hasilnya tdk begitu. Nah mengantisipasi efek yang tdk indah itulah, saya bermaksud meminta teman2 mempertimbangkan kembali “keinginan mulia” tadi.

Senior kita yang dulu lulus dg paper jurnal dan conf mencapai puluhan katanya beliau juga baito. Tapi beliau mengingatkan : Terburu-buru di awal jauh lebih baik dari pada terburu-buru di akhir. Mengapa ? Sebab bila pd saat awal Anda konsentrasi penuh “hanya” utk akademis, maka diharapkan disain riset Anda sdh fixed di awal. Lalu menjalankannya jadi mudah, terus paper2 yang akan dipakai syarat lulus bisa dicukupi di awal-awal. Akibatnya pada saat-saat akhir, Anda punya pilihan, apakah mau nambah paper atau ngirim news paper… 🙂

Hal ini sangat berbeda, bila di awal-awal periode dipenuhi acara baito, jalan-jalan, cangkruan, nggedabrus, dsb. Apalagi baito yang menyita banyak waktu, atau bahkan sampai pamit supervisor gak bisa zemi karena shift masuk malam… wah… hati-hati rekan2. Ini abunai… mohon segera banting stir. Hubungan dg supervisor mohon dijaga sebaik mungkin, jangan sampai menyinggung. Bagaimanapun tugas utama mhs ya sekolah, kegiatan akademik, dan bukannya sibuk dg yg non akademik.

Sebetulnya di Jepang ini, tinggal “nari awake dw”, menawarkan option ke diri sendiri. Mau option research ya dapet, mau option jalan-jalan ya keturutan…

Mengapa ? sebab fasilitas di Jepang ini sangat muanstap. Bayangkan ribuan jurnal elektronik, artikel, buku, bisa diakses free, gratis loh… dan tinggal klik, gak usah ke sana kemari apalagi bayar tambahan. Sangat beda jauh dg di tanah air. Lalu supervisor yg gampang dicari, sangat beda jauh dg dosen pembimbing kita di tanah air, yg mroyek mulu, mau ketemu saja harus janjian luamaaaa… giliran ketemu harus happyou dari awal lagi… tidak pernah ada zemi atau progress report… Tapi di sini, justru supervisornya yg sering nyari mhsnya, bbrp supervisor saya lihat datang suka kepagian, pulang suka kemalaman.

Jadi intinya tulisan yg kepanjangan ini adalah berusahalah untuk “BERES” sejak dari awal, sehingga tidak sampai gelagapan di saat semester 5 musimnya orang submit disertasi…

Sebagai contoh, bagi Anda yg disyaratkan (minimal) 2 paper jurnal dan bbrp conference. Maka akhir semester 1, seharusnya sdh mulai submit conference. Paling lambat akhir sem 2. Mengapa ? sebab sejak submit sampai terjadinya conf itu butuh waktu l.k. 8 bulan / hampir setahun, demikian pula jurnal (malah ada yg lebih dari setahun utk naik cetak). Lalu sementara menunggu bikin paper kedua, kemudian sem berikutnya (sem 3) musti sdh submit yg kedua, paling lambat sem 4.  Sementara yg pertama sdh ada pengumuman, yg kedua ini nunggu sampai semester 5. Nah, kalau misalnya sem 4 berhasil submit 1 lagi, maka tinggal nunggu pada akhir semester 5 mgk sudah ada hasil (minimal kabar diterimanya), sehingga bisa diikutkan sbg syarat lulus. Nanti yudisium (rapat kelulusan) akan membahas berdasarkan jumlah paper, biasanya begitu. Sebisa mungkin jangan sampai disebut lulus dg syarat minimal, sbb itu akan merepotkan juga, ketar-ketir, giri-giri, apalagi sampai ber-onegaishimas sana sini, sebisa mgk jangan dah… yah kalau sdh nasib mau apa lagi, tp kalau blm, kenapa tidak dimulai dari sekarang usahanya.

Jadi ?

Jadi yah marilah kita atur sendiri skenarionya… jangan sampai pontang-panting di belakang hari, ngejar setoran, gara-gara dari awal terlalu sibuk menggapai impian harta tadi… Lebih baik agak buru-buru di awal, tapi di akhir studi bisa HUSNUL KHOTIMAH……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s