Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Adat dan Multilevel Balasan

Leave a comment

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kaum muslimin di tanah air kita sangat beragam. Keragaman itu efek dari perbedaan adat istiadat, perbedaan kondisi alam, perbedaan tingkat pendidikan, perbedaan pergaulan, dan lain-lain. Karena itulah timbul perbedaan cara pandang dalam memahami kondisi sosial masyarakat.

Beberapa kalangan tertentu, dalam menghadapi sesuatu yang berkaitan dengan kebiasaan beribadah suatu kelompok, ada yang lebih suka berdalil POKOKNYA. Contoh sederhana, adat memperingati 7 bulan kehamilan atau nujuh bulanan atau tingkeban, banyak dijalankan di seluruh tanah air (tidak hanya Jawa), dengan berbagai variasi istilah. Memperingati wafatnya salah satu anggota keluarga, turut berduka citanya tetangga dengan hadir bersilturahmi, ziarah ke orang alim untuk mengawali sesuatu hal penting, dan kebiasan-kebiasan lain sering menjadi sasaran empuk aliran POKOKNYA ini. Frase POKOKNYA sangat boros diucapkan. Contohnya begini POKOKNYA itu syirik, POKOKNYA itu bidah, POKOKNYA sesat, POKOKNYA pelakunya masuk neraka, dll.

Dakwah Islam ke berbagai strata masyarakat, seringkali dipatahkan oleh orang-orang yang boros frase POKOKNYA. Para Ulama yang telah bersusah payah menyisipkan aspek ibadah menjadi kebiasaan masyarakat, menjadi sia-sia usahanya. Hal ini sangat disayangkan, apalagi sebagian besar kalangan POKOKNYA ini adalah orang berpendidikan, yang justru seharusnya analisa ilmiah lebih dikedepankan. Semua haruslah bersumber dari AlQuran dan Hadits. Bila tidak terdapat didalamnya harus dimusyawarahkan oleh Para Ulama sehingga menjadi konsensus (Ijma’), dan bila sudah ada ketiganya tinggal dicari analognya (Qiyas). Keengganan mencari dari empat sumber inilah, mengakibatkan aliran POKOKNYA ini sering membuat KERUSUHAN RITUAL. Saya memperkenalkan frase KR ini, karena yang diributkan adalah aspek Ritual, keterkaitan vertikal antara makhluk dan penciptanya. Akibat permohonan sang hamba kepada Khaliqnya yang caranya belum bisa dipahami oleh pembuat konflik tadi.

Pada contoh adat tujuh bulanan di atas, memang bisa dikatakan bahwa permohonan seorang hamba bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Namun timing yang tepat tidak bisa diabaikan begitu saja. Seseorang bermohon keselamatan pada saat selesai shalat, tidaklah sama dengan saat berada di pesawat yang sedang berguncang. Bermohon mendapatkan anak shalih saat belum kawin, tentu berbeda nuansa dg saat istrinya sendiri yang hamil. Lebih-lebih saat kehamilan sudah diambang kelahiran. Karena itulah Nabiyullah Adam AS tak menyia-nyiakan timing ini. Beliau mengajak manusia yang lain (saat itu hanya ada satu lagi), yakni Ibu Hawa untuk bahu membahu berdoa ke hadirat Allah SWT, memohon diberikan anak yang shalih (QS Al-A’raf 198). Bahkan di sana dibeberkan contoh doa yang fixed untuk mendoakan janin yang menjelang lahir itu, yakni “La in ataina shalihal lanakunanna misay syakirin”.

Dengan melihat sumber ilmiah ini, tak heranlah bagi sebagian muslimin untuk membiasakan diri, mengikuti jejak Nabi Adam AS, sebagaimana direview oleh Nabi Muhammad SAW ketika menafsirkan ayat AlQuran tersebut. Dalam hal ini, oleh karena manusia yang ada tidak hanya dua orang seperti jaman N. Adam AS, maka undangan ke tetanggapun diberikan. Undangan untuk turut bahu membahu
bermohon kepada Allah SWT agar makhluk berikut yang akan diciptakanNya dan sedang di rahim sang ibu ini, kelak menjadi anak Shalih. Dengan diiringi acara makan-makan, yang lazim dinamai selamatan, ibadah bernama shadaqahpun dilaksanakan. Seandainya kata selamatan diganti dengan pesta, maka tidak mungkin ada protes sedikitpun. Padahal sekali lagi, kalau mau mendengarkan Rasulullah SAW, “Ash shadaqatu tadfa’ul bala” sedekah itu menolak bencana, Insya Allah apa yang disedekahkan ke tamu dan tetangga tadi akan benar-benar menjadi faktor pencegah turunnya bencana.

Tentu saja ini sangat mudah dipahami bila frase POKOKNYA tadi dibuang jauh-jauh. Sebab Rasulullah SAW dalam sejumlah hadits menyebutkan bahayanya Qaswatul Qalb (kerasnya hati). Orang yang berhati keras akan sangat sulit menerima penjelasan agama, mempan terhadap berbagai nasihat, merasa sok benar sendiri, dan seterusnya. Bagaikan batu hitam (batu kali) yang walaupun direndam di sungai bertahun-tahun, saat diambil dan dipecah, dalamnya tetap kering kerontang. Bertetangga dengan para ulama bertahun-tahun, tetep saja keangkuhannya dan kekerasan-hatinya tidak berubah. Mudah-mudahan kita dijauhkanNya dari sifat qaswatul qalb itu.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,

Walhasil, pembumian AlQuran sangat membutuhkan kreatifitas kita, agar AlQuran (beserta isinya) bisa dicicipi dan dinikmati seluruh kalangan, baik rakyat jelata maupun yang menengah ke atas. Pengajian dengan Teleconference misalnya, merupakan sebuah inovasi usaha untuk membumikan AlQuran. Bagi yang masih berpegang kepada aliran POKOKNYA tentu akan dengan sigap menyebut ini sebagai POKOKNYA bidah, dengan dalil tidak ada di jaman Rasulullah SAW. Contoh lain, menuliskan ayat dan hadits di web bukanlah hal yang biasa di jaman Rasulullah SAW, dimana para shahabat biasa mendokumentasikan ucapan beliau melalui kayu, batu, kain, dll. Inovasi-inovasi itu tentu saja terkait dengan zaman yang terus berkembang ini, yang situasi dan kondisinya sudah sangat jauh dibanding 14 abad yang lalu, dan itu diserahkan kepada kita sebagai ibnuz zaman. Karena itulah Rasulullah SAW bersabda sebagaimana didokumentasi oleh Imam Muslim: “Man Sanna Sunnatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man amila biha mim ba’dihi”. Barang siapa yang mensunnahkan (membuat tradisi) baik, maka dia akan mendapat pahalanya dan ditambah pahala orang yang menirunya nanti.

Tuhan memotivasi kita semua membuat inovasi-inovasi baru di masyarakat untuk dapat menjalankan perintahNya, dengan iming-iming tidak hanya unilevel pahala, namun juga multilevel pahala, yakni dikarenakan orang yang mengikuti sunnah tersebut. Sebaliknya bila seseorang memulai sebuah kemaksiatan, kemunkaran, kerusuhan ritual yang berakibat terhentinya orang lain dalam beribadah, akibat hujjah atau argumentaisi yang berdasar POKOKNYA tersebut, maka bisa dibayangkan bagaimana unilevel dan multilevel dosa akan disandangnya. Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar selalu dikaruniaiNya hidayah untuk menuju ke jalanNya dan dihindarkan dari fitnah orang-orang yang tersesat lagi menyesatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s