Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Biaya Mengaji dan Mantera

2 Comments

Belum lama ini, ramai dibicarakan seorang Ustadz yg minta bayaran 300rb untuk mendoai seseorang agar pandai. Mungkin ini sangat aneh, dan tuduhan miringpun langsung tersebar. Apalagi buat orang yg memang “bawaan” sdh gak suka dg institusi keulamaan.

Bagi saya ini adalah berita yg sangat menarik, karena semakin membuka mata kita atas terjadinya anomali di masyarakat.

Anomali apaan?

Akhir-akhir ini, semangat belajar agama yg sangat menurun di masyarakat, sangat mungkin diakibatkan “masa depan” gaji, bayaran, dan sebangsanya yg sangat tidak adil dibanding rekan2 yg lain yg belajar ilmu kedokteran, ekonomi, teknik, dsb. Betulkah gratisan seperti itu?
Yg kuliah kedokteran mgk sdh punya bayangan nanti kalau nulis resep, bisa terus menyodorkan kuitansi. Yg orang komputerpun demikian, juga yg lain. Tapi kalau kita sekarang belajar Tafsir AlQuran, mendalami hadits, baca kitab fiqih, dll, bayangan apa selain sorga yah… (sorga juga masih kalau2 diridloi Tuhan).

Coba kita perhatikan sebuah hadits panjang berikut ini, dan mohon diperhatikan komentar “menarik” dan “simpatik” dari Rasulullah SAW terhadap perbuatan shahabat.

Hadits riwayat Imam Bukhari, Jilid 3, Nomor 476: Diriwayatkan dari Abu Sa’id r.a.:

Beberapa Sahabat Nabi dalam suatu perjalanan, sampailah di sebuah kampung (di malam hari). Mereka meminta penduduk kampung tersebut untuk memperlakukan mereka sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut menolak untuk menjamu mereka. Sang kepala suku kampung Arab tersebut kemudian digigit ular (atau tersengat kalajengking) dan para penduduk tersebut mencoba sekuat tenaga untuk menyembuhkannya, namun gagal.

Beberapa di antara mereka berkata, “Tak satu pun yang dapat membuatnya sembuh, coba pergilah kalian ke orang-orang itu (para sahabat Nabi) yang bermalam di sana, mungkin ada di antara mereka yang memiliki obat”. Mereka pun pergi ke tempat para Sahabat dan berkata “Pemimpin kami telah digigit ular (atau tersengat kalajengking) dan kami telah mencoba berbagai cara namun ia tak sembuh-sembuh juga. Apakah kalian memiliki sesuatu (untuk menyembuhkannya)?” Salah seorang di antara Sahabat Nabi SAW tersebut menjawab “Ya, Demi Allah! Aku dapat membacakan Ruqya (mantera), tapi karena kalian telah menolak untuk menerima kami sebagai tamu, aku tak akan membacakan Ruqya bagi kalian, kecuali bila kalian memberikan upah atasnya.”

Mereka pun setuju untuk membayar para Sahabat tersebut dengan sejumlah domba. Salah seorang dari para Sahabat Nabi SAW itu kemudian pergi dan membaca Al-Fatihah: ‘Segala puji adalah bagi Tuhan sekalian alam’ dan meludahkannya ke sang kepala suku, yang seketika itu menjadi sehat kembali seakan-akan ia baru terlepas dari kungkungan rantai, dan bangkit serta mulai berjalan, tanpa menunjukkan tanda-tanda sakit.

Mereka pun membayar para Sahabat sejumlah kambing seperti yang telah disetujui. Beberapa di antara para Sahabat, kemudian menyarankan untuk membagi pendapatan mereka tersebut di antara mereka sendiri, tapi Sahabat yang melakukan pembacaan Ruqyah tadi mengatakan, “Jangan membagi-bagi upah ini hingga kita pergi menghadap pada Nabi SAW dan menceritakan keseluruhan peristiwa tadi pada beliau, dan menunggu perintah beliau.”

Maka, mereka pun pergi ke Rasulullah SAW dan menceritakan peristiwa itu. Rasulullah SAW bertanya, “Bagaimana kamu tahu bahwa Al-Fatihah itu dapat dipakai sebagai Ruqya?” Kemudian beliau SAW menambahkan, “Kalian telah melakukan hal yang benar. Bagilah (apa yang telah kalian peroleh) dan berilah pula bagiku bagianku.” Nabi SAW pun tersenyum
kemudian.

===========================================

Sekarang, mari kita coba analisa dan sekaligus dengan merefere ke hadits yang lain.

Pertanyaannya:
– Lazimkah bermantera alias “nyuwuk” di kalangan Shahabat?
– Bolehkah menerima upah kalau kita diminta tolong membacakan AlQuran?

Coba kita perhatikan hadtis berikut ini:
فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إن أحق ما أخذتم عليه أجراً كتاب الله
“Sesuatu yang lebih haq (berhak) atas kalian untuk mengambil ajran(upah)nya adalah Kitabullah”.

Kira-kira… apakah yg dimaksud dengan “Ajran/upah” di atas ?

Mungkin sebagian diantara kita memaknai kata “Ajran” diatas sbg “pahala”. Sebab mungkin juga agak tabu berbicara masalah duit untuk urusan ibadah. Orang pada umumnya mau membayar kalau suatu jasa itu diterima dari ahli duniawi (montir, dokter, dosen, bankir, dst), tapi justru enggan membayar bila jasa itu diterima dari ahli agama (nanya hukum, minta didoakan bisnisnya lancar, minta diajari ilmu tertentu, dst). Mohon maaf kalau masalah ini sensitif. Saya hanya berusaha bersikap adil ke perbedaan profesi ini. Sebab akhir2 ini banyak orang makin lama makin menjauhi belajar agama, karena “masa depannya” dianggap “tidak menjanjikan”. Sangat berbeda dg profesi yg satunya lagi.

Kita kembali ke makna kata “Ajran” diatas, pahalakah ? ataukah ongkos materi alias duit ?
Tentu saja kita perlu menilik asbabul wurud (sebab establishnya hadits) atau konteks pembicaraan hadits itu.

Hipotesa:
Ternyata maksud hadits ini memang betul2 materi, dan bukan pahala.

Proof:
Sebagaimana hadits diatas, dan hadtisnya yg lain yg diceritakan oleh Sayyidina Ibnu Abbas RA:
5405 – حدثني سيدان بن مضارب أبو محمد الباهلي: حدثنا أبو معشر البصري، هو صدوق، يوسف بن يزيد البرَّاء قال: حدثني عبيد الله بن الأخنس أبو مالك، عن ابن أبي مُلَيكة، عن ابن عباس:
أن نفراً من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم مروا بماء، فيهم لديغ أو سليم، فعرض لهم رجل من أهل الماء، فقال: هل فيكم من راق، إن في الماء رجلاً لديغاً أو سليماً، فانطلق رجل منهم، فقرأ بفاتحة الكتاب على شاء، فبرأ، فجاء بالشاء إلى أصحابه، فكرهوا ذلك وقالوا: أخذت على كتاب الله أجراً، حتى قدموا المدينة، فقالوا: يا رسول الله، أخذ على كتاب الله أجراً، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إن أحق ما أخذتم عليه أجراً كتاب الله).
Alkisah serombongan shahabat Rasulullah SAW melewati suatu tempat yang ada airnya. Kebetulan di situ terdapat orang yg sakit terkena sengatan.
Lalu salah seorang penduduk situ mendatangi (sowan) ke rombongan para shahabat, dan bertanya “Apakah diantara Bapak2 ini ada yang dapat bermantra (nyuwuk) ? karena di sini ada orang yg terkena sengatan”. Maka salah satu shahabat maju membacakan Surat Al-Fatihah dan mendapatkan upah beberapa kambing. Kemudian dia datang ke teman2nya sambil membawa kambing itu, tetapi mereka tidak menyukainya dan berkata: “Apakah kamu mendapatkan upah untuk membacakan Kitabullah?”, sampai akhirnya mereka tiba di Madinah, dan berkata: “Ya Rasulullah, dia mendapatkan upah untuk membacakan Kitabullah”, Ternyata Rasulullah SAW bersabda: “Sesuatu yang lebih haq (berhak) atas kalian untuk mengambil upahnya adalah Kitabullah”.

Conclusions:
– M A N T E R A

Sudah lazim di kalangan para shahabat untuk membacakan mantera atau memanterai (suwuk) orang sakit, hanya saja saat itu belum lazim untuk menerima ongkos, karenanya beliau2 ragu, hingga melaporkan kasus pemberian upah (bukan kasus nyuwuknya) itu ke Rasulullah SAW.

– O N G K O S
Membacakan atau mengajarkan ayat Al-Quran itu tidak dilarang untuk menerima upah. Bahkan memang ada hak bagi si pembaca/pengajar untuk menerimanya.

– B I S N I S
Seorang ulama yang mengajarkan Kitabullah, jauh lebih haq untuk dibayar (dengan materi) dari pada seorang guru yang mengajarkan ilmu non Kitabullah. Hal ini terbukti dg digunakannya kata “Ahaqqu” yg menurut para pakar hadits, semakna dengan “Aulaa”, yakni lebih berhaq atau lebih utama, bahkan boleh jadi dimaknai “yang paling haq/utama”.

Wassalam
Agus

Advertisements

2 thoughts on “Biaya Mengaji dan Mantera

  1. Saya setuju Pak Aguss wong Paranormal aja punya Hummer dan kapal pesiar . makanya sekarang banyak yg mau jd para normal ketimbang jadi guru ngaji……….dan jd paranormal itu cepat sekali dapat Ijazahnya dan menguasai ilmunya cuma nanti di akhir jaman antriannya beda , cuma …….kalo sy mikir 10.000 kali deh buat jd paranormal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s