Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Dengki dan Mimpi

Leave a comment

Kasihan sekali kalau sampai ada orang terkena penyakit dengki alias hasud.
Dia tak kan rela kalau ada orang lain senang.
Mendengar si A punya anak pinter dia langsung mencibir, sambil berusaha menonjolkan anaknya.
Ada kabar si B dapat kerjaan enak, dia coba cari celah-celah fitnahnya.
Diberi tahu bahwa si C lulus dia akan langsung meriang. Demikian seterusnya.

Walhasil menderita sekali dia, sebab Tuhan itu maha pemurah, suka memberi hambaNya, sementara “si hasid” ini tidak rela, kalau Tuhan memberikan sesuatu ke seseorang yang dikenalnya.
Iblispun demikian, karena merasa menjadi tokoh yang disegani para malaikat, dia tidak rela Tuhan mengangkat derajat sekaligus memberi knowledge yang luar biasa kepada Nabiyullah Adam AS, yang dianggapnya kalah alim dan kalah mulia. Maka hukuman Tuhanpun diterimanya dengan “rela”. Bukannya iblis tidak paham sakitnya siksaan neraka, namun demi rasa dengki yang bercokol di hatinya itulah, dia rela dihukum apapun.

Kalau sampai ada manusia, kok ternyata punya sifat dengki ini, sebaiknya kita tolong dia, biar tidak makin sakit fisiknya dan batinnya, dan biar tidak makin menumpuk dosanya. Yah… cara paling sederhana adalah Rahasiakan nikmat itu dari dia. Nikmat apa saja. Entah nikmat lahiriah yang nampak oleh mata, tercium oleh hidung, dst. Lebih-lebih nikmat batiniyah yang berupa kenaikan tingkat dalam pengalaman spiritual.

Lalu bagaimana hubungannya dengan akhir QS Adl-Dluha, “Wa amma binikmati rabbika fahaddits”, yakni “Dan terhadap ni’mat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan”. Bgm sikap kita???
Betul nikmat itu memang perlu disampaikan, tapi HANYA (sekali lagi “hanya”), kepada orang yang dapat dipercaya, betul2 confidence / trust. Sayyidina Husain bin Ali RA, cucunda Rasulullah SAW meriwayatkan hadits berikut:
وَعَنْ الْحَسَن بْن عَلِيّ – رَضِيَ اللَّه عَنْهُمَا قَالَ : إِذَا أَصَبْت خَيْرًا , أَوْ عَمِلْت خَيْرًا , فَحَدِّثْ بِهِ الثِّقَة مِنْ إِخْوَانِك . وَعَنْ عَمْرو بْن مَيْمُون قَالَ : إِذَا لَقِيَ الرَّجُل مِنْ إِخْوَانه مَنْ يَثِق بِهِ

Kalau kamu mendapat kebaikan, atau berbuat baik, ceritakan kepada saudara2mu yg tsiqah (bisa dipercaya). Demikian pula Amr bin Maymun menggariskan, bahwa good news tadi itu baru boleh diceritakan kalau ketemu dengan saudara2 yang dapat dipercaya.

Sebenarnya perahasiaan ini tidak hanya membantu untuk si Hasid tadi, biar tidak makin menjadi dengkinya. Tapi juga berguna untuk yang mendapatkan nikmat, yakni agar selamat dari doa jelek atau rencana jelek orang lain, berkait dg datangnya nikmat itu.

Contoh paling mudah ya mimpi baik. Mimpi baik itu ada 2 macam, mimpinya itu sendiri yang baik, bikin seneng atau arti mimpinya itu yang baik. Rasulullah SAW bersabda (Hadits Shahih Muslim bab mimpi)
‏عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏أَنَّهُ قَالَ ‏ ‏الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنْ اللَّهِ وَالرُّؤْيَا السَّوْءُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَمَنْ رَأَى رُؤْيَا فَكَرِهَ مِنْهَا شَيْئًا ‏ ‏فَلْيَنْفُثْ ‏ ‏عَنْ يَسَارِهِ وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ لَا تَضُرُّهُ وَلَا يُخْبِرْ بِهَا أَحَدًا فَإِنْ رَأَى رُؤْيَا حَسَنَةً فَلْيُبْشِرْ وَلَا يُخْبِرْ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ
…… Sedangkan, kalau mimpimu itu baik, ceritakanlah, tapi jangan sekali-kali cerita kecuali kepada orang yang (memang kita duga) dia akan suka.

Lebih-lebih kalau mimpi itu luar biasa, misal berhasil mimpi ketemu Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Rahasiakanlah serahasia mungkin, kecuali kpd orang2 tertentu (misal ulama agar mendapat arahan lebih lanjut). Sebab itu berarti derajat Anda sedang diangkat di sisi Allah SWT, alias naik pangkat. Jangan sampai kenaikan pangkat tadi ter-cancel gara-gara munculnya sifat sombong, akibat cerita sana sini. Ibarat mendung pekat sudah hampir hujan, tiba-tiba datang angin kencang, mendung tersingkir, nggak jadi hujan.

Hal ini sangat penting, karena itulah, cukup banyak hadits yang mensitirnya. Misalkan di Shahih Muslim juga, diriwayatkan:
فإذا رأى أحدكم ما يحب فلا يحدث بها إلا من يحب وإن رأى ما يكره فليتفل عن يساره ثلاثا وليتعوذ بالله من شر الشيطان وشرها ولا يحدث بها أحدا فإنها لن تضره
Bila diantara kalian ada yg bermimpi hal yang menyenangkan, maka jangan ceritakan itu kecuali kepada orang yang akan seneng (mendengarnya). Tapi bila mimpi itu tidak disukai, maka hendaknya meludah ke kiri 3x dan ber-taawwudz kpd Allah dari syaitan dan kejelekannya (audzubillahi minasy-syaithani wa syarriha), lalu keep, jangan ceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi tadi tidak akan membahayakannya.

Ada satu pelajaran tambahan di sini, yakni kalau mimpi tadi itu jelek, dan membuat khawatir, merinding, was-was, maka untuk meyakinkan diri bahwa mimpi tadi tak kan berefek, silahkan mengikuti 3 steps di atas. Meludah ke kiri 3x, baca doa itu, dan jangan sekali-kali diceritakan. Sebaliknya kalau mimpi itu bagus, bolehlah diceritakan tapi hanya orang tertentu (spesial), sebab kalau kebetulan yang ternyata berhati buruk, maka sangat mgk dia akan makin benci dan dengkinya kambuh, dan yg lebih gawat adalah dikhawatirkan dia akan mentakwilkan jelek mimpi itu. Padahal arti sebenernya bisa jadi sangat bagus.

Referensi:
1. Tafsir Al-Qurtuby http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?l=arb&taf=KORTOBY&nType=1&nSora=93&nAya=11

2. Shahih Muslim http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=1&Rec=5399

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s