Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Hidayah dan closeness

Leave a comment

Syekh Hisyam Kabbani datang ke Jepang. Tanpa banyak ndalil, bersyahadatlah sejumlah orang di hadapan beliau. Orang jahatpun di hadapan beliau dapat langsung menyadari kejahatannya. Hal yang sama terjadi pula pada diri para ulama salaf di tanah air.

Tidak sedikit para selebritis, pecandu narkoba, dan koruptor “dengan mudahnya” insyaf di hadapan Gus Mik (KH Khamim Jazuli). Apalagi bila kita berkaca ke jaman wali songo. Jutaan orang Hindu dan Animisme, hanya dalam waktu sekian tahun berhasil di-Islamkan “hanya” oleh tim 9 ini saja. Dan sejak saat itu berdirilah berbagai pondok pesantren yang meneruskan upaya beliau, di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dll.

Di lain pihak, kita merasa ada sesuatu yang aneh dengan diri kita sendiri. Jangankan untuk meng-Islamkan non muslim, meng-Islami-kan orang yang sudah Islam saja rasanya setengah mati. Bahkan memberi tahu teman sekantor agar tidak korupsi saja, malah ditentang dan diancam. Memberi tahu kawan agar tidak memecah belah ukhuwah Islamiyah saja, malah dituduh bid’ah. Mengajak baca Al-Quran, malah dituduh cari massa. Walhasil jangankan tujuan utama tercapai, alih-alih tidak dituduh jahat saja sudah untung.

Mengapa kedua kasus ini berbeda????
Apa bedanya???
Toh isi dakwah yang kita berikan tidak jauh berbeda dengan isi dakwah beliau-beliau Radliyallahu Anhum itu. Ayat dan haditsnyapun ya itu-itu juga, dari Quran dan kitab hadits yang sama.

Coba kita telusuri lagi….
Pada saat yang lain, bila para ulama yang sangat dekat hubungannya dengan Allah SWT ini, mempunyai acara, selalu saja ribuan bahkan puluhan ribu manusia hadir menyimak. Baik yang beliau sebut sebagai Pengajian, Khataman, Thariqatan, dll semuanya dipenuhi orang yang ingin turut mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di saat yang sejuk itulah, beliau-beliau memberikan nasihatnya, yang akhirnya berhasil memperbaiki akhlak orang tersebut.

Lagi-lagi nampak jelas ada sebuah variable yang hidden, tak nampak di mata, tak terasa di hati dan tak tercium di hidung. Variable apakah itu?
Kotaaaae wa………… Jawabnya………
H I D A Y A H

Nasihat secanggih apapun (dengan pendekatan seni, ilmiah, teknologi, dll) tak kan efektif, bila tidak dibarengi hidayah Allah SWT. Siapapun yang didakwahi, bila pas pada saat itu hidayah disiramkan ke dalam dadanya, pasti orang itu akan dengan mudah tunduk ke dalam ajaran Islam. Istilahnya QS Al-Kahfi:17, May yahdillahu fahuwal muhtad.

Kita sebaga manusia biasa, jelas mustahil menyiramkan hidayah itu kepada mereka, sebab yang punya hak prerogatif meng-hidayah-i seseorang itu hanya Allah SWT. Nah kalau da’i yang mengajak ini tidak (mau) dekat dengan Allah SWT, maka kecil sekali probabilitas untuk dituruti kehendaknya (agar Allah meng-hidayahi seseorang). Sekalipun orang yang kita dakwahi itu sendiri adalah orang dekat kita, kalau Tuhan tak menghendaki ya tidak akan ada efeknya.

Karena itulah di QS 28:56 disebutkan “Innaka la tahdi man ahbabta”, Kamu pasti tak kan bisa meng-hidayah-i orang sekalipun dia orang yang kau cintai. “Walakinnallaha yahdi may yasya'”, sebab hanya Allah sajalah yang berkuasa meng-hidayah-i seseorang.

Di sinilah perbedaan utama antara nasihat para waliyullah dan nasihat dari kita yang masih “menjauhi” Tuhan. Meskipun wali songo metodenya sangat sederhana namun beliau orang-orang yang dikasihi Allah SWT. Pernahkah kita mendengar “konser wayang” atau “konser gamelan” yang digelar oleh Sunan Kalijogo atau Sunan Bonang atau Sunan Drajat? Penonton diharuskan masuk ke tempat konser, melalui pintu gerbang indah dengan menggunakan tiket berupa kalimah Syahadat. Barangsiapa yang melewati pintu gerbang itu akan diampuni (Ghafuro) dosanya oleh Tuhan, sehingga gerbang indah itu dinamakan gapuro alias gapura.

Sederhana dan tidak ndakik-ndakik, namun keberhasilan metode-metode semacam itu dapat kita saksikan hingga sekarang. Diakui atau tidak, WNI asli pastilah keturunan para penyembah berhala. Laula (kalau saja tanpa) para wali songo, niscaya mbah-mbah kita masihlah menyembah berhala.

Kesimpulan:
1. Mengapa para wali berhasil mengIslamkan orang-orang kafir پgdengan mudahپh, sedangkan kita jangankan mengIslamkan orang kafir, me- lebih-Islam-kan orang yang sudah Islam saja sulitnya minta ampun? Karena hak pemberian hidayah adalah pada Allah SWT, dan mereka para wali itu adalah hamba-hamba yang dekat dengan Allah SWT.
2. Kalau dakwah kita dirasa kurang berhasil, padahal strategi yang kita susun sudah dirasa sangat bagus, maka evaluasilah kadar kedekatan kita dengan Allah SWT. Berapa jam dalam sehari, kita mengkhususkan diri ber”intim” dengan Tuhan, lewat wirid dzikir, tadarrus, atau ibadah lainnya. Istafti qalbak.

Hiroshima, 15 Juni 2005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s