Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Ibadah Memotong Kuku

Leave a comment

Yah, meskipun kita tidak dalam lingkup pesantren, bolehlah mencicipi sepercik ilmu yang included dalam kitab kuning, berkaitan dengan hal-hal yang direkomendasi Rasulullah SAW untuk kehidupan kita sehari2 Alhamdulillah bagi kita sekarang sudah tersedia kitab kuning online.

Pada hari Jumat, biasanya kita awali hari dengan beberapa kesunnahan, khususnya masalah kebersihan, misal memotong kuku.
Kesunnahan memotong kuku itu sebenarnya juga meliputi urutan jarinya, sebagaimana dibahas dalam kitab “Mughnil Muhtaj ila ma’rifati alfadhil Minhaj”.

http://feqh.al-islam.com/Display.asp?Mode=0&MaksamID=308&Sharh=1&DocID=70&ParagraphID=3291&Diacratic=0

وَكَيْفِيَّةُ التَّقْلِيمِ أَنْ يَبْدَأَ بِالْمُسَبِّحَةِ مِنْ يَدِهِ الْيُمْنَى لِأَنَّهَا أَشْرَفُ ، إذْ يُشَارُ بِهَا إلَى التَّوْحِيدِ فِي التَّشَهُّدِ ، ثُمَّ الْوُسْطَى لِكَوْنِهَا عَنْ يَمِينِ الْمُسَبِّحَةِ إذَا نَزَلَتْ الْأَرْضَ عَلَى سِمَتِهَا مَبْسُوطَةَ الْكَفِّ عَلَى الْأَرْضِ ، ثُمَّ الْخِنْصَرِ ، ثُمَّ الْبِنْصِرِ ، ثُمَّ الْإِبْهَامِ ، ثُمَّ بِخِنْصَرِ الْيُسْرَى ، ثُمَّ بِنْصِرِهَا ، ثُمَّ الْوُسْطَى ، ثُمَّ السَّبَّابَةِ ، ثُمَّ الْإِبْهَامِ ، ثُمَّ يَبْدَأُ بِخِنْصَرِ الرِّجْلِ الْيُمْنَى ، ثُمَّ بِمَا بَعْدَهَا إلَى أَنْ يَخْتِمَ بِخِنْصَرِ رِجْلِهِ الْيُسْرَى

Dimulai dari tangan kanan: Telunjuk, jari tengah, jari manis, kelingking, ibu jari.
Dilanjutkan jari kiri: Kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk, ibu jari.
Kemudian kaki kanan: dari kelingking, jari manis, dan seterusnya sampai kelingking kaki kiri.

Sekalian membahas kuku, saya coba menuliskan hal-hal ringan, yang mestinya semua sdh tahu, tapi siapa tahu ada yang belum tahu.

Mengecat kuku dan mewarnai kuku itu ada bedanya. Mengecat kuku memang memberikan warna (gambar) tertentu pada kuku, namun pada umumnya bahan cat inilah yang mengakibatkan kuku terhalang dari air saat bersuci.
Kalau sedang menanggung hadats kecil (setelah kentut, buang air, dll), mau shalat, maka harus wudlu dulu. Nah dengan terhalangnya air untuk menyiram kuku ini, berakibat wudlunya tidak sah. Efeknya, shalatnya juga tidak sah.
Bahkan kalau kondisi ini terjadi pada orang yang punya hadats besar (selesai datang bulan, berhubungan suami istri, keluar mani, dll), itu berarti dia selalu dalam state hadats besar terus. Padahal cukup banyak yang diharamkan bagi state ini.

Hal ini juga berkaitan dengan tatto, yang catnya juga menghalangi kulit, sehingga kulitnya tidak bisa terkena air wudlu (untuk mengangkat hadats kecil) atau air mandi (untuk mengangkat hadats besar). Efeknya yah bisa dibayangkan sendiri, dalam keabsahan ibadah, dan dosa yg ditanggung dengan melanggar larangan2 tertentu (larangan khusus bagi yg punya hadats). Sebisa mungkin tatto harus dihilangkan, tapi kalau memang sulit sekali ya sudahlah, berharap ampunan Allah SWT saja, sebab Allah SWT maha pengampun dan maha penyayang.

Yuridullahu bikumul yusra, wala yuridu bikumul usr
Allah menghendaki kalian jadi enteng, dan tidak menghendaki kalian jadi kesulitan.
Dikehendaki agar enteng itu, tidak seyogyanya terus mengentengkan segalanya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s