Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Ibadah Menyambut Tahun Baru

Leave a comment

Tahun baru Hijriah merupakan salah satu hari istimewa bagi Ummat Islam. Di tanah air dan di berbagai belahan Nusantara bahkan di seluruh dunia Islam dipanjatkan puji syukur, permohonan ampun, ditambah doa harapan di tahun baru.

Sementara itu di beberapa tempat, sekelompok manusia tak henti-hentinya berhujjah ini bid’ah, itu bid’ah terhadap ummat Islam yang sedang berdoa ini. Untuk itu marilah kita kaji sejenak, benarkah hujjah segelintir manusia ini dalam mengganggu kekhusyuan ibadah yang dituduhnya dlalalah (sesat) dan masuk neraka itu.

Adakah seluruh kaum muslimin di dunia tadi telah bersatu dalam kesesatan dan ramai-ramai masuk neraka? ataukah jangan-jangan yang sibuk menuduh kafir itu yang dijanjikan Rasulullah SAW bakal terkafirkan oleh ucapannya sendiri? pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu dijawab ini, mari kita kesampingkan saja. Yang perlu diketahui adalah apakah ada basis argumentasi bagi amalan tersebut. Sebab bagi yang tidak mengetahuinya akan mudah sekali menuduh ini dan menuduh itu.

Beredarnya masa selama satu tahun yang terdapat 12 bulan didalamnya ini adalah salah satu kekuasaan Allah SWT. Dan pada saat berakhirnya tahun tersebut, sudah selayaknya kita memuji keagaunganNya dengan segala pujian dan permohonan ampun. Sebagai hamba yang hanya bisa bermohon, sudah sepatutnya pula awal tahun ini kita buka dengan bermohon keberhasilan dan kesuksesan segala urusan dunia dan akhirat, agar di tahun yang akan datang senantiasa dipenuhi rahamt dan maghfirah.

Bid’ah dlalalah (yang sering dikatakan oleh mereka secara mutlak semuanya sesat dan ke neraka) adalah mengadakan sesuatu yang baru yang tidak ada alasannya langsung kepada ajaran Islam. Bagi mereka, bid’ah ini hanya berdefinisi sebagai segala yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah SAW. Sangkaan ini sungguh sangat dhalalah pula, menyesatkan orang yg tidak tahu dan merusak keyakin orang yang ragu. Sebab banyak sekali tindakan yang tidak ada riwayatnya, tapi sangat dibutuhkan untuk dikerjakan. Sayyidina Usman telah mengawali mengkompilasi mushaf AlQuran dan mengadakan Adzan Jumat 2 kali. Sayyidina Umar telah memulai pengaturan shalat Tarawih secara berjamaah. Itulah sebabnya Imam Syafi’i menyebut amalan ini sebagai bid’ah hasanah, bahkan Imam Nawawi mendefinisikannya hinggal 5 level. Untuk ini kita menjadi faham, bahwa amalan baru yang tidak ada alasan hukumnya kepada Alquran maupun Hadits itulah yang berujung kepada Dlalalah (sesat). Saat inipun internet sudah merambah berbagai lini, sehingga pengajianpun dapat dilangsungkan dengan teleconference. Membaca kitab para ulama’pun dapat melalui monitor. Bahkan lantunan AlQuranpun (jelas ibadah) dapat dinikmati melalui media audio visual. Semua ini belum pernah diamalkan pada jaman dahulu.

Sekarang kita masuk ke topik, yakni doa tertentu pada masa tertentu yang gemar dituduhkan sebagai amalan bid’ah. Perlu diketahui, kita sudah terbiasa memuji Allah karena melihat tanda kebesaranNya, berterima kasih kepadaNya karena segala nikmatNya. Kalaulah dikatakan, itu semua harus persis 100% dengan petunjuk Allah dan tidak semata-mata mengikuti akal, maka perlu diketahui bahwa kita bersyukur ini tidak semata-mata mengikuti akal, namun kita mengikuti perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW. Bukankah berdoa itu saja sudah ibadah, bukankan berdzikir itu juga jelas ibadah. Kita tidak merayakannya dengan pesta kembang api atau pentas drama dan konser, namun dengan sesuatu doa. “Ud’uni astajiblakum”, demikian firman Allah “berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan”, hak Allah SWT untuk mengabulkan. Soal doa kita bakal menghapus dosa setahun atau tidak, itu hak prerogratifNya. Soal setahun kedepan nanti bakal didampingi malaikat atau tidak, itu juga kehendak Allah SWT. Bahkan kita juga tidak tahu, apa yang akan ditimpakan Allah SWT terhadap orang yang rajin menteror hambaNya yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.

Dalil berikutnya adalah AlQuran dan hadits yang sudah sangat banyak memerintahkan ummat Islam, selalu minta ampun dan berdoa, kapan saja dan dimana saja. Tak terbatas hanya saat akan makan, mulai belajar, atau menjelang tidur. Bahkan di saat apapun. Dan bukanlah kewajiban untuk selalu berdoa terus menerus dengan teks persis AlQuran dan hadits, walaupun jelas ada fadlihah khusus untuk itu. Akan tetapi berdoa lumrah saja disesuaikan dengan apa yang sedang dimohonkannya. Ingin lulus ujian, ingin naik pangkat, ingin melamar gadis, atau yang lain, tentu doanya juga akan menyesuaikan dengan keinginan itu.

Faktor yang lain lagi adalah kemaslahatan suatu amalan. Saat manusia sedang bergembira ria menyambut tahun yang baru yang mungkin dirayakan dengan kemaksiatan, betapa maslahahnya bila dialihkan dengan mengajak ibadah.

Kadang juga seseorang suka bermain dalil dengan melarang orang berdoa kecuali dengan bilangan, jenis bacaan, hari, dan tempat yang 100% persis dengan Rasulullah. Bila meleset satu saja, sudah diklasifikasi sebagai Bidah Dlalalah, dan masuk neraka. Dalam menentukan hukum agama, marilah membuang jauh-jauh hawa nafsu, dendam kesumat pribadi, dan akal semata. Rasulullah, para shahabat, termasuk para ulama terdahulu tidak pernah membuat aturan seaneh ini. Bila ada yang shalat shubuh 3 rakaat karena berharap pahala lebih, maka layaklah itu kita golongkan sebagai mengada-ada. Adapun berdoa pada saat yang tidak pernah diriwayatkan wajib berdoa saat itu, tidaklah ada hukum dosa, karena Rasulullah SAW senantiasa berdoa dan berdzikir kepada Allah SWT kapan saja, bahkan di saat mata beliau terpejampun.

Disamping itu, perintah berdoa dan berdzikir tidakah mewajibkan kekhususan waktu dan tempat. Tidak ada salahnya bila kita ingin baca AlQuran selepas Maghrib. Tidak ada salahnya pula kita bershalawat tiap hari Minggu atau Senin, walaupun tidak ada riwayat khusus tentang itu. Kalau sudah begini, tidak ada salahnya pula kita mengkhususkan diri berdzikir saat hadirnya tahun yang baru, dimana akan dimulainya hitungan 12 bulan, salah satu kekuasaan Allah SWT. Sebuah ungkapan rasa syukur dan harap atas kemurahan Allah SWT

Walhasil, doa di akhir tahun maupun di awal tahun ini adalah salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Dan berdoa disana bukanlah kewajiban, sehingga tanpa melakukannyapun tidaklah berdosa. Namun bila ingin kita ungkapkan rasa syukur dan harap itu, marilah berdoa, semoga di tahun yang lampau, segala dosa kita diampuni Allah SWT. Dan di tahun yang baru nanti, kita selalu dilindungi dan senantiasa menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

Ada baiknya kita baca hadits Rasulullah SAW

‏مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Artinya: “Barangsiapa yang membuat sunnatan hasanatan (contoh yang baik) dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang memberikan contoh jelek dalam Islam, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkan setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka” (HR. Muslim) [1].
Hadits ini mendorong untuk selalu memulai dalam kebaikan, memberikan tradisi dan contoh, dan mengajak kepada kebaikan, melarang memulai kebatilan dan hal yang tidak baik.

Hiroshima, 6 Februari 2006
Agus

[1] http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=1&Rec=6216

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s