Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Ikhlaskah

1 Comment

Ikhlas itu didefinisikan macam-macam oleh bermacam-macam orang, namun ada baiknya saya sitirkan salah satunya yang diterangkan oleh para ulama, yakni bilamana tujuan akhirnya itu adalah Allah SWT, maka masih kita kategorikan sbg ikhlas.
Dengan begitu ada 3 level kesadaran beribadah yang bisa termasuk ikhlas ini, yakni beribadah agar mendapatkan :
1. bagian dunia.
2. bagian akhirat
3. ridlo Allah SWT
Dengan ikhlas, bukan berarti orang beribadah itu tidak pingin apa-apa, namun tetep saja ada yg diharapkannya.

Untuk level 1, bagian dunia, dpt saya contohkan, orang yang rajin shalat dluha dg berharap bisnisnya lancar, atau papernya jadi, atau dagangannya laris, pangkatnya naik, dst. Orang ini walaupun punya “tendensi”, dan secara
majazi tidak bisa disebut ikhlas, namun secara hakiki, tuntutan dia tersebut adalah kepada Allah. Alih-alih sebagian “rayuan gombal”, tapi juga permhonan yg tulus, agar tuntutannya itu dipenuhi Allah. Mohon maaf, saya sebut “gombal”, soalnya kadang content shalat dluhanya sendiri kualitasnya juga segitu, khusuknya, kesucian pakaiannya, batinnya, validitas bacaannya, dst. Contoh lain adalah, bersedekah, biar rejekinya berkah dan melimpah, jelas dia berharap bahwa dg sedekah itu, maka Tuhan diharapkan akan memberinya rejeki tambahan. Contoh lain, berbuat baik ke orang, harapannya agar suatu saat nanti di suatu tempat orang akan dibuat baik kepadanya oleh Tuhan. Silahkan dilanjut contoh2 tersebut, termasuk juga yang punya wirid2 tertentu agar tercapai tujuannya yang tertentu pula. Tapi jangan salah sangka, mereka itu begitu gak ngawur, melainkan karena ada riwayat dalilnya, misal tentang keutamaan shalat dluha, juga tentang ashshadaqatu tadfaul bala (sedekah bisa menyingkirkan bencana/apes), juga dalil2 tentang fadilah ibadah yang lainnya.

Untuk level 2, bagian akhirat, yang dimaksud tentu tak lepas dari pahala dan dosa, surga dan neraka, nikmat dan siksa qubur, dst. Ada orang yg takut korupsi disebabkan takut dosa. Ada orang puasa sebab pingin masuk sorga. Ada orang bershalawat sebab pingin dapat syafaat Rasulullah. Ada juga yang amal sedekah biar di sorga dibalas berlipat2 atau bahkan untuk menebus dosanya yang lalu, dst. Inipun juga berdasarkan dalil2 yang valid, dan sah juga untuk disebut ikhlas.
Cuman gaya ini adalah model anak TK, yang mau sekolah karena dijanjikan permen, atau gak ikut hujan-hujan karena takut dipukul bapaknya. Istilah bahasa Maduranya, based on reward and punishment.

Yang kayaknya belum banyak dilirik adalah level 3. Beribadah adalah HANYA agar diridloi Allah SWT. Gak mau maksiat, biar gak dimurkai Allah. Mau berwirid, biar diridloi Allah SWT. Inilah yang betul2 lillahi taala. Umpama diberitakan sebuah hadits (UMPAMA ADA), bahwa orang yang shalat gak dapat pahala loooo, maka orang ini akan tetep saja shalat. Bahkan seandainya (sekali lagi SEANDAINYA), ada hadits bagi yang shalat akan diceburkan ke neraka. Maka orang inipun gak akan peduli, sebab memang sdh diperintah shalat oleh Tuhan, walaupun nanti diakhirat dineraka-kan ya biar, yang penting Allah ridlo ke saya. Kalau diridloi Allah, walaupun di neraka gak akan panas loooo…. mau tahu ??? Nah itu, Rasulullah SAW waktu Mikraj kan sempat jalan-jalan ke neraka bareng malaikat Jibril AS. Kalau memang panas, tentu pulang pulang ke Makkah, kaki beliau pasti gosong, hehehe… Terus… masih inget Malaikat Malik AS temennya Malaikat Ridlwan AS.? satunya di lahan kering,satunya di lahan
basah, hehehe… Nah tempat tinggal tinggal Malaikat Malik AS kan di neraka juga. Tapi karena beliau2 itu semua diridloi Allah SWT, maka tak sedikitpun terasa panasnya api neraka.

Bagi yang putri saya pingin nanya… apakah enak masakkan buat suami, nyuciin baju suami, dst itu hanya didasari karena takut dicerai, soalnya kalau dicerai nanti ikut siapa ??? Bagaimana halnya dg istri yang berbuat untuk suami, tapi dengan dasar cinta, ikhlas semata-semata pingin dapat ridlo suami ? Tentu orang yang terakhir ini, akan melaksakannya dg suka cita dan bahagia, tak kan terasa hidupnya sbg siksaan, pengorbanannya tak
dirasakan sbg dikorbankan suami.

Bisa kita analogkan dengan kondisi kita saat ini di Jepang, kalau memang kita lagi di jalan yang diridloi Allah SWT, maka cacian teman, ejekan sensei, kesulitan di lab, dst tak kan jadi halangan, sebab yakin betul bahwa semuanya ini sdh ditujukan agar diriloi Allah SWT. Ikhlas semata, gak pamrih dapet pujian teman, pujian sensei, dst. Bahasa Surabayanya, gak dipuji yo gak pathek en. Biar kamu benci, yang penting Allah SWT ridlo ke saya, titik.

Mudah dikatakan, namun sulit dilaksanakan bukan ?
(yang terakhir ini kalimat ngopy, hehehe… )

Advertisements

One thought on “Ikhlaskah

  1. Iya benar pak Agus tapi susah menerapkan yang level 3, itu sudah gak mikir masuk neraka apa surga yang penting ibadah aja . Kayak ahli sufi gak mikirin harta , tahta , wanita dan toyota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s