Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Jangan gentar ejekan orang dalam kita beribadah

Leave a comment

Sudah menjadi tradisi, bahwa ibadah kaum muslimin selalu menjadi bahan ejekan “rekannya” yang nota bene juga mengaku sebagai muslim. Bahkan para Kiaipun tak luput dari ejekan2 orang2 yg mengaku golongan cerdas nan Islami ini. Mudah2an hal tsb tidak akan terjadi lagi. Tapi seandainya terjadi, mudah2an kita diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk tetap konsisten dalam jalur ibadah / thariqah yang sdh sesuai dengan AlQuran dan hadits ini.

Janganlah heran, memang ada tipe orang Islam yang suka mengganggap muslim lain tidak Islami, dan sebaliknya dia sendirilah yang dianggapnya paling Islami. Orang yang model begini ternyata sudah ada sejak jaman dahulu, bahkan sejak jaman Rasulullah SAW. Bahkan kita disuruh HATI-HATI menghadapi orang semacam ini. Walaupun dia sangat tekun ibadahnya, atau bahkan sampai hitam dahinya, panjang jenggotnya, tinggi celananya, tapi kalau sifat “sok” itu dipeliharanya, apalagi meremehkan Rasulullah SAW (dan para ulama sebagai pewarisnya), ya tak ubahnya seperti orang yang diceritakan di hadits ini, yakni Abdullah bin Dzil Huwashirah (ADH).

Rasulullah SAW saja diprotesnya dan dinasihatinya agar berbuat adil/bertaqwa, dst. Hati-hatilah dengan orang model begini, sebab ia akan memiliki massa / pengikut yg tidak sedikit, sepanjang masa. Rasulullah menyebutkan ADH ini memiliki ashhaban (pengikut).

Kita tidak perlu menuduh siapa2 yg termasuk gerombolan si ADH, sebab akan menimbulkan perpecahan bagi ummat Islam, walaupun hakikatnya justru kelompok ADH inilah yg memulai perpecahan itu sendiri. Tapi hendaklah kita tetap bersabar dalam beribadah bila ibadah kita dicemooh, diejek, dan dikutuknya sbg bidah, mengada-ada, dst. Dan yg terpenting jangan sampai ikut geromobolannya.

Demikian bunyi haditsnya :
‏حدثنا ‏ ‏عبد الله بن محمد ‏ ‏حدثنا ‏ ‏هشام ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏معمر ‏ ‏عن ‏ ‏الزهري ‏ ‏عن ‏ ‏أبي سلمة ‏ ‏عن ‏ ‏أبي سعيد ‏ ‏قال ‏
‏بينا النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقسم جاء ‏ ‏عبد الله بن ذي الخويصرة التميمي ‏ ‏فقال اعدل يا رسول الله فقال ويلك ومن يعدل إذا لم أعدل قال ‏ ‏عمر بن الخطاب ‏ ‏دعني أضرب عنقه قال دعه ‏ ‏فإن له أصحابا يحقر أحدكم صلاته مع صلاته وصيامه مع صيامه يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ينظر في ‏ ‏قذذه ‏ ‏فلا يوجد فيه شيء ثم ينظر في ‏ ‏نصله ‏ ‏فلا يوجد فيه شيء ثم ينظر في ‏ ‏رصافه ‏ ‏فلا يوجد فيه شيء ثم ينظر في ‏ ‏نضيه ‏ ‏فلا يوجد فيه شيء قد سبق الفرث والدم آيتهم رجل إحدى يديه ‏ ‏أو قال ثدييه مثل ثدي المرأة ‏ ‏أو قال مثل البضعة ‏ ‏تدردر ‏ ‏يخرجون على حين فرقة من الناس قال ‏ ‏أبو سعيد ‏ ‏أشهد سمعت من النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأشهد أن ‏ ‏عليا ‏ ‏قتلهم وأنا معه جيء بالرجل على ‏ ‏النعت ‏ ‏الذي ‏ ‏نعته ‏ ‏النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال فنزلت فيه ‏
‏ومنهم من يلمزك في الصدقات ‏

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&Rec=10326
Hadits riwayat Imam Bukhari (nomor 6421) Dari Shahabat Abu Said Alhudzri.

Waktu itu baru selesai perang hunain, Rasulullah SAW membagi ghanimah (harta rampasan perang). Tiba2 datang Abdullah bin Dzil Huwashirah, dari bani Tamim dan berkata “I’dil ya Rasulallah”, berbuat adillah ya Rasulallah.
Menurut riwayat Abdur Rahman bin Abi Nu’min, malah “Ittaqillah Ya Muhammad”, taqwalah pada Allah, hai Muhammad. Menurut riwayat Abdullah bin Amr, “I’dil ya Muhammad”. Menurut Imam Hakim, “Ya Muhammad, wallahi lain kaanallahu amaraka an ta’dil maa araka ta’dil”. Demi Allah, engkau telah diperintah adil, tapi kenapa kok tidak adil. Ada juga varian hadits lain, ma araka adalta fil qismah”.

Demikianlah kedurhakaan orang yang mengaku sok adil ini, bahkan Rasulullahpun dituduhnya tidak adil dan disuruhnya bertaqwa.

Padahal Rasulullah jelas2 berbuat apa saja itu atas perintah Allah SWT sbgmn ayat “Wamaa yanthiqu anil hawa in huwa illa wahyuy yuha”. Tak ada sedikitpun Rasulullah SAW itu menuruti hawa nafsunya, melainkan semuanya atas petunjuk wahyu.

Dan Rasulullah SAW menjawabnya, “waylaka”, celakalah engkau, “waman ya’dilu idz lam a’dil” (siapa lagi yang adil kalau aku sdh dianggap gak adil). Bahkan di riwayat lain, Rasulullah SAW sampai sumpah, “Wallaahi laa tajiduuna ba’di rajulan huwa a’dala alaikum minni”, demi Allah tak kan kau jumpai setelahku orang yang lebih adil daripadaku terhadapmu.

Demi menyaksikan kedurhakaan orang sok adil ini, Sayyidina Umar RA langsung angkat bicara, “Allow me to cut off his neck (da’ni an adhrib unuqahu)”, biarkan saya penggal leher orang ini.

Dijawab oleh Rasulullah SAW, Da’hu (biarkan saja), “fainna lahu ashhaban yahqiru ahadukum shalatahu maa shalatihi washiyamahu maa shiyamihi yamruquuna minaddiini kama yamruqus sahmu minar ramiyyah”. Sesungguhnya dia nanti punya banyak pengikut, kalau kalian membandingkan shalat kalian dengan shalat mereka, kalian bakal minder. Juga kalau kalian bandingkan puasa kalian dengannya kelihatan kalah. Tapi mereka itu keluar dari agama seakan-akan keluarnya anak panah dari busurnya.
Bahkan saking cepatnya digambarkan oleh Rasulullah SAW, bahwa “yundhoru fi qudzadzihi falaa yuujadu fiihi syaiun, tsumma yundharu fi nashlihi falaa yuujadu fiihi syaiun, tsumma yundharu fi rishafihi falaa yuujadu fiihi syaiun, tsumma yundharu fi nadliyyatihi falaa yuujadu fiihi syaiun”. Umpama qudzadznya dilihat (oleh pemanah) tidak ada apa-apanya, juga nashlnya (besi ujung panah), rishafnya (tempat masuknya nashl), nadliynya (batang anak panah), tidak ada bekas apa-apanya. “Qad sabaqal fartsa waddama ayaatuhum rajulun ihda yadaihi”, dst. Begitu cepatnya hingga tak ternodai oleh kotoran dan darah (si hewan buruan itu, waktu menembusnya).

Demikianlah, orang (yang mengaku muslim) namun mencemooh Rasulullah SAW. Disebutkan oleh Rasulullah SAW, sifat orang itu:
– Shalat/puasanya seringkali membuat kita tercengang. Tapi ketahuilah Islamnya lepas dari dadanya seperti melesatnya anak panah dari busurnya.
– Rasulullah saja dilecehkan ketaqwaannya, apalagi shahabat dan seluruh ummat Islam yg tidak segolongan dengannya.
– Ingat… dia punya pengikut (massa).
– Kita tidak perlu memeranginya, sebab akan mengakibatkan perpecahan Ukhuwah Islamiyah.

Selanjutnya peristiwa keributan ini diabadikan oleh Allah SWT dengan turunnya QS At-Taubah:58
“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah”.

Ini jelas menunjukkan, bahwa fatwa/komentar merekapun UUD, Ujung-Ujungnya Duit, dlm hal ini minta bagian zakat itu. Sekali lagi ndak perlu menuduh2 siapa diantara manusia yg kita hadapi ini yg termasuk golongan itu, tapi seandainya bertemu hendaklah kita jangan gentar dalam beribadah/bersikap bila dikomentari jelek oleh mereka.

Musuh jangan dicari, ketemu jangan lari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s