Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Kelezatan Menjadi Orang Islam

Leave a comment

Bagian I

Ada seseorang yang sdh 20 tahun mengaku sbg orang Islam, ada yg sdh 30 tahun, bahkan hampir 40 tahun. Beberapa pernyataan sempat meluncur, dengan menunjukkan kebanggaan diri sebagai orang Islam, bahkan menganjurkan orang lain untuk beriman.

Tapi pernahkan Anda sendiri sempat mencicipi yang namanya Iman itu lezat, terasa manis, enak di lidah, dan adem di hati? Atau jangan-jangan apa yang dibangga2kan seperti di atas itu, sekedar idealisme plus kepura-puraan?

Bagi yang sedang kuliah atau bekerja di Luar Negeri, di negara yang mayoritas non muslim, bila musim panas mulai menjelang, cewek2 sdh mulai berpamer paha dan dada, sementara mata dilarang keras oleh Tuhan untuk menikmatinya… akhirnya hanya menundukkan kepala…. lezatkah keputusan ini?

Masuk ke kantin, hampir semua makanan yg nampaknya enak tidak bisa dimakan, kalau gak mengandung daging babi, yah mengandung daging2 yg tidak dipotong dg betul. Demikian pula roti-roti yang melihatnyapun sudah bikin ngiler, ternyata mengandung ingredient yang tak halal dimakan… akhirnya tidak jadi makan… lezatkah keputusan ini?

Panas, sumuk, hingga baru bisa tidur kalau sdh lewat jam 12 malam. Eh… 4 jam kemudian harus sdh bangun dan shalat shubuh dengan menahan kantuk dan lemas…. lezatkah keputusan ini…?

Hmmm…. mungkin topik ini kurang menarik, tapi adakah shahabat2 yang bisa berpendapat sejujurnya, memerangi pertentangan idealisme ini?

Bagian II

Dalam bahasa Jepang, Oishi itu Lezat yang terasakan di lidah. Sedangkan kimochi ga ii itu lezat yang terasa di hati. Dua-duanya sama saja mencerminkan indahnya perasaan saat menikmati suatu benda, dan juga bahagianya hati saat menjalankan suatu perbuatan, kendati perbuatan itu terasa berat dan sulit di mata orang lain.

Coba kita ambil contoh sederhana. Di Jepang, sepeda (onthel) itu hanya boleh dinaiki seorang saja. Dilarang keras untuk dipakai berboncengan, karena itu ban sepeda itu akan sangat nampak gembos bila ada yang naik di belakang, yang berarti makin terasa
berat oleh yang mengayuhnya. Namun sering terjadi seorang mahasiswa nekad membonceng mahasiswi, yang postur tubuhnyapun sama besarnya. Dan tentu saja ini sangat berat dengan kondisi ban yang sangat gembos begitu. Lucunya mahasiswa itu tampak bersuka cita, bahkan ketika jalan menanjakpun tetap saja dilaluinya dengan gembira. Tak ayal lagi, ini pasti disebabkan kerelaan hatinya terhadap sang idamannya. Seandainya mahasiswa itu Anda hentikan dan Anda tawari hal yang meringankannya, yakni bagaimana kalau ceweknya itu ikut mobil kita saja, biar sepeda dia terasa ringan? Pasti akan ditolak, dan masih untung Anda tidak dipukulnya… 🙂

Inilah ridlo, rela, lega. Kerelaan dia menanggung beban itu, disebabkan keridloaan dia terhadap yang diboncengnya.

Silahkan dianalogkan dengan kejadian dan kasus lainnya, yang menyebabkan si pelaku ridlo melakukan segalanya, demi keridloannya terhadap si penyebab adanya perbuatan itu. Dan di saat itulah, keridloan tadi menjadikan perasaannya asyik, tenteram, nikmat, hingga terasakan langsung kelezatannya di hati.

Nah, kalau perintah-perintah Allah masih dirasakan sebagai halangan, perbedaan pembagian rizkinya masih dianggap ke-tidak-adilanNya, masih diutamakannya keridloaan supervisor dibanding keridloanNya, dsb, maka bisa diperkirakan seberapa rendah level keridloannya kepada Allah.

Kalau autaran2 dalam agama Islam dirasa memberatkannya, larangan2 dirasa mengganggu aktifitasnya, merusak keinginannya, dsb, maka mudah diperkirakan seberapa rendah level keridloannya kepada Islam.

Bahkan bila Kanjeng Nabi Muhammad SAW masih dianggapnya sbg beban, dimana dia harus sering men-shalawati-nya, memuji-muji kepribadiannya, dan mencintai keluarganya serta ulama pewarisnya, maka jelas sekali seberapa rendah level keridloannya kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Maka seorang mukmin sejati baru akan bisa merasakan lezatnya iman, bila telah berhasil mebuat dirinya Ridla mengakui ALLAH sebagai Tuhannya, Ridla memiliki Islam sebagai agamanya, dan ridla atas Nabi Muhammad SAW sebagai penuntunnya.

ذاق طعم الإيمان من رضي باللّه ربا وبالاسلام دينا وبمحمد نبيا
Beberapa kitab hadist mencatat hadits di atas, yakni baru terasa lezatnya iman itu, kalau seseorang telah ridla Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Nabi Muhammad sebagai Nabinya.

Karena itulah, kalau hati masih belum 100% ridla, kita tetap berusaha “memaksanya” ridla dengan segala daya upaya, lahir maupun batin, diantaranya dengan mengajaknya dengan menyatakan:
Radlitu Billahi Rabba, Wabil Islami Diina, Wabi Muhammadin Nabiyya.

Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan:
Tak seorang muslimpun yang membaca “Radlitu Billahi Rabba, Wabil Islami Diina, Wabi Muhammadin Nabiyya “, 3x di waktu petang atau pagi, kecuali dia telah berhak untuk diridloi oleh Allah Azza wajalla pada hari kiamat nanti.
ما من عبد مسلم يقول ثلاث مرات حين يمسي أو يصبح رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا
وبمحمد نبيا إلا كان حقا على الله عز وجل أن يرضيه يوم القيامة.

Karena itulah dalam Ratibul Haddad yang kita baca, terdapat wirid “Radlitu billahi Rabba, wabil Islami Dina, Wabi Muhammadin Nabiyya”, 3x.

Bagian III

Saat ini sudah semakin lumrah, Islam itu HANYA dijadikan bahan diskusi BELAKA, tapi TIDAK menjadi bahan amalan sehari-hari. Kalau sudah diskusi tentang Islam, semangatnya kayak mau jihad perang badar saja, tapi begitu ketemu amalan sehari-harinya jawabnya nanti dulu.

Bilang berdzikir itu penting, marilah berdzikir, tapi dia sendiri tak satu wiridpun punya. Diajak tahlilan masih was-was, jangan2 ini bidah. Diajak baca Ratibul Haddad yang isinya penuh dengan ayat dan dzikir perintah Rasulullah, eh masih mempertanyakan kredibilitas penyusunnya.

Bilang shalat itu sarana berkomunikasi dengan Tuhan, memiliki keistimewaan secara medis, tapi dia sendiri tidak pernah shalat sunnah, bahkan shalat Witirpun yang diriwayatkan aslinya berlevel wajib tunai tiap malam, ternyata menjalankannya masih menunggu Ramadlan.

Bilang AlQuran itu sumber ilmu, semua sdh dibahas di AlQuran, ummat Islam harus membacanya, eh diserahi satu juz saja untuk hataman, sampai 2 minggu gak dibaca-baca juga. Apalagi kalau jawabnya tidak sempet, padahal puluhan bahkan ratusan email tiap hari dibacanya, sementara 99% email tadi itu kalau mau diamati jujur, ternyata tidak ada manfaatnya fid dunya maupun akhirah. Sebaliknya, satu huruf dari bacaan AlQuran saja, sdh dipastikan gajinya oleh Allah SWT, ngerti gak ngerti maknanya tetep dapet manfaat (minimal pahala), apalagi sampai mengerti dan mempelajari arti dan tafsirnya. Bukannya tidak usah baca email, AlQuran saja, Tapi cobalah dilihat proporsinya, memperbanyak hal yang tidak penting dibanding yang penting, pantaskah?

Karena itu, mari berkaca, jujurkah apa yang telah selama ini kita ucapkan itu betul-betul dari dalam nurani. Atau jangan2 masih penuh keraguan. Mengaku Islam itu oishi tapi tidak mau mencicipi. Kayak kebanyakan orang Jepang yang disuruh mencicipi makanan, apapun pasti akan dibilangnya oishi (lezat), walaupun kalau disuruh nambah, pasti dia bilang chotto (anu-ini-itu)………. 🙂

Kalau begitu mari jujur, kalau memang berdzikir itu penting, mari kita ambil wirid seukuran kemampuan kita. Istilahnya Al-Quran, Ittaqullaha mas tatha’tum, bertaqwalah sejauh mana kemampuanmu. Kita hadiri majelis dzikir, majelis wirid, khataman, tahlilan, dll.

Kalau memang mengaku shalat itu sangat essential, ya ayo yang namanya sunnah fajar, sunnah witir itu ditengok. Dan yang juga penting makna bacaan itu juga diusahakan paham.

Kalau diakui AlQuran harus dipelajari, ya mangga kita buka dan hadiri kajian tafsir AlQuran, biar maknanya betul-betul menempel dan secara praktis bisa dijalani, biar ayat-ayat itu tidak hanya menjadi konsep atau doktrin belaka.

Kurang lebihnya mohon maaf atas bahasa yang mungkin agak sulit diperhalus, Insya Allah buah nangka itu walaupun kasar kulitnya tapi contentnya luar biasa manis. Tidak perlu meniru kedondong, yang nampak luar begitu mulus, namun bijinya keras dan berduri.

Wassalam
Hiroshima, 5 Juli 2005
Agus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s