Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Maintenance

4 Comments

Mood… enggak… mood…. enggak…
Seperti sedang menghitung suara tokek
Begitulah irama hidup, irama ibadah, irama belajar, dst…

Dan rupanya memang seperti sdh didesain begitu, sehingga term hati (qalb) itu sendiri memang memiliki kemiripan dengan term “berubah” (yuqallibu). Sepasang kata ini dpt kita temukan di doa penutup tahiyyat akhir, “ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi ala dinik”, “Wahai yg membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku terhadap agamaMu”. Berbolak-balik, berubah-ubah, begitulah sifat dasarnya.

Betapa asyiknya, kalau seandainya mantra “berubah” yg bahasa Jepangnya “hensin” itu, bisa kita teriakkan manakala gak mood, sehingga bisa menjadi mood, sebagaimana Deka Renja yg langsung teriak HENSIN……… manakala ketemu monsta…. terus dia lgs seketika berubah…

=====

Realnya, kontrol thd perubahan2 yg begitu cepat itu, membutuhkan maintenance kita. Bila maintenance kurang baik, akan cepat sekali drop. Contoh nyata, yg biasanya jarang shubuh berjamaah, begitu mendapat cerita ttg hadits keutamaan berjamaah shalat shubuh, spontan hatinya tanggap dan dia segera menjalankannya dg rutin. Tapi begitu berlalu beberapa masa, bila ketanggapan hati tadi tidak dimaintain, apalagi bertemu intruder, yakni isu2 yg dihembuskan para spesialis dhaif (ada loh orang yg kerjaannya mendoifkan berbagai hadits, padahal baca Quran aja gak bisa), maka lambat laun, mulai berubah. Mula-mula jamaahannya telat, terus shubuh sendirian, berikutnya shubuhnya sendiri yg telat.

Begitu pula dengan aspek ibadah yg lain, misalkan wirid. Dengan tidak memaintain controller tadi, walhasil semangat berwirid akhirnya menurun, mula2 telat waktunya, molor, terus sekali-sekali saja dijalankan, terus lama-lama ditinggalkannya sama sekali. Lebih-lebih bila bertemu intruder seperti diatas, misalkan ucapan si spesialis pendhoif tadi : memangnya membaca dzikir dari Rasulullah kalah mulia dibanding dari ulama yg memberimu wirid itu? langsung kontan drop….
Coba seandainya dia tahu bahwa wirid2 tadi itu ya 100% dari Rasulullah, hanya saja dia tidak hafal urutan sanad hadits ttg dzikir itu (memangnya ahli hadits, apa? kok sampai hafal urutan sanad), sedangkan si spesialis dhoif sendiri, blm tentu mengamalkan satupun dzikir yg disebutnya dari Rasulullah. Nah lo…

Belum lagi kalau dari sejak awal berdzikir itu ditujukan untuk meraih “sesuatu”. Wah yg bertendensi semacam ini lebih sulit lagi, untuk bisa langgeng mewiridkannya. Walaupun masih masuk wilayah ikhlas, namun yg bertendensi begini ini perlu juga tetap dimaintain. Kalau tidak sangat mudah luntur keyakinannya terhadap kemuliaan (baca:khasiat) bacaan tersebut. Begitu berkurang keyakinannya, saat itu pulalah semangat menjalaninya segera finish.

Karena itulah Syekh Abdurrahman As-Saqqaf mengatakan:
Tidaklah berkurang ibadah seseorang kecuali setelah berkurang keyakinannya.

Anda punya wirid tertentu dan sekarang sdh berhenti mengamalkannya ?
Jujur… betulkah keyakinan Anda terhadap wirid itu belum berkurang….???
Istafti qalbak………. tanyai hatimu.

Advertisements

4 thoughts on “Maintenance

  1. Alhmadulillah, terima kasih Pak Agus. Tidak salah dugaan Pak Agus, memang saya ‘kehilangan’ wirid. agak lama lagi. Dulu saya lumayan rutin wirid ma’tsurat AlBanna, tapi seperti yang ditulis Pak Agus, kurang kuat menghadapi intruder 😦

    Konklusi logisnya : Untuk menambah ibadah lebih baik, maka keyakinan harus lebih baik. InsyaAllah.

    Jazakumullah khoiron katsiro.

    Tikno

  2. Saya adalah mahasiswa bapak. Sering kali kalo saya lihat para intruder kalo abis sholat malah pada ngelamun mendingan wirid.

  3. memang bener ulasan bapak diatas, memang kenyataannya seperti yang diutarakan diatas. ke istiqomahan terhadap wirid itu terkadang timbul dan tenggeleam. apalagi klo kita wirid ada maksudnya, ketika gusti allah sudah me-ijabahi hajat kita, bisa2 wirid kita berhenti…

    tapi menurut saya, klo kita berwirid memandang pada pahala juga kurang tepat sudut pandangnya. saya lebih suka memandang wirid karena saya ingin gusti allah mengingat saya terus seperti saya mengingat gusti allah melalui wirid

  4. kalo di sini adem terus pak. Seneng tulisan2nya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s