Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Mau dagang saja atau dikasihani

Leave a comment

Prinsip dagang kadang sempat diterapkan oleh sebagian orang terhadap amalan yang diperbuatnya sehari-hari. Artinya kalau nikmat Allah yang diterimanya sekian, maka ibadahnya sekian juga. Kalau nikmat nya segitu, ya ibadahnya segitu saja.

Mestinya, dalam kondisi demikian, dibutuhkan kejelian yang luar biasa, terhadap nikmat apa saja yang diterimanya sejak pagi tadi, waktu bangun tidur, hingga saat ini, dan sampai nanti tidur lagi. Bahkan nikmat berhasil bangun dari tidurpun semestinya masuk hitungan. Sebab betapa banyak orang yang tidur, terus tidak pernah bangun lagi, untuk selamanya. Jadi kalau serius mestinya ini juga dikalkulasi.

Nikmat berupa penglihatan juga tidak pernah dikenakan ongkos sewa oleh Allah SWT, entah perhari, perjam atau bahkan permenit, semuanya serba free. Bahkan udara yg dihirup tiap sekian detik itupun dibiarkan free download. Bisa dibayangkan bila ongkos sekali hirup, katakanlah bukan uang, melainkan membaca Lailahaillah 1x, tentu takkan ada lidah dan bibir yang mampu menunaikannya.

Rasanya juga memang tak kan sampai menghitung semua nikmat tadi itu, sebab untuk nikmat yang nampak (lahir) saja sdh mustahil dikalkulasi, apalagi nikmat yang tersembunyi (batin). Betapa banyak orang yang hatinya tersiksa, setiap kali ada temannya yang beroleh kesuksesan. Menjadi sumpek ketika diberitahu temannya lulus, menjadi terbatuk-batuk ketika mendengar temannya mendapat proyek, dan seterusnya. Jelas orang yang tidak memiliki sifat hasud begini juga termasuk sedang mendapatkan nikmat Allah SWT.

Karena itulah Allah SWT berfirman, “Wa in tauddu nikmatallahi la tuhshuha”. Kalau kau menghitung nikmat Allah, pasti tak akan mampu.

Begitulah sumpah Allah Ta’ala, komputer manapun tak kan sanggup menghitung nikmat tersebut. Sebab katakanlah dengan processor 32 bit, maksimal angka yang disimpannya adalah 2 pangkat 32, atau 4x1024x1024x1024 (2 pangkat 10 itu 1024), yakni 4.294.967.296. Jangankan untuk menghitung jumlah sel pembentuk tubuh dan jumlah atom dari berbagai senyawa kimia milik benda-benda yang kita nikmati dari detik ke detik itu, dengan angka rupiah yang barusan dikorupsi pas pemilu itu saja masih kalah banyak.

Nah kalau sudah begitu, masih adakah orang yang mengandalkan ibadahnya, sok sucinya, sok alimnya, untuk mengkapling surga buat dirinya, dengan memastikan mana kaplingan di sorga yang paling pantas buatnya. Di sinilah Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim, bersabda:
“Lay yudkhila ahadan minkum amaluhul jannah”
“Amalanmu semata tak kan mampu memasukkanmu ke sorga”
Para shahabatpun bertanya “Wa la anta Ya Rasulallah?”
“Apakah Penjenengan juga demikian Ya Rasulallah?”
Qala “Wa la ana, illa an yataghammadaniyallahu minhu bifadllin warahmatin”
“Saya juga, hanya saja Allah melimpahiku dengan karunia dan kasihNya”.

Jelas, hanya karunia Allah yang kita harap, dan Belas KasihanNya semata yang kita minta untuk menyelamatkan diri dari jilatan api neraka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s