Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Membangun mood dengan wirid

Leave a comment

Seiring waktu, silih berganti jiwa kita berada dalam state Mood dan Bad Mood, semangat dan tidak semangat, rajin dan tidak rajin, dst.

Ada kalanya ketiadaan motivasi ini diakibatkan oleh beratnya beban harian yang diterima oleh badan dan pikiran. Sehingga di saat stamina lahir dan batin sedang tinggi, maka semuanya dapat mengalir baik. Namun di saat stamina sedang-sedang saja, apalagi saat down (turun), maka beban tugas itu terabaikan begitu saja.

Hal ini tidak terkecuali dalam segi ibadah. Kita sebagai mukallaf mendapat tugas, baik yang wajib maupun yang sunnah, baik yang required maupun yang recommended. Tugas ibadah itu biasa diistilahkan dengan wirid, yakni akitifitas ibadah tertentu yang ditunaikan di waktu tertentu (harian atau mingguan). Berbeda dengan “ibadah borongan” yang dilakukan dalam waktu sekejap dengan volume yang besar, namun wirid ini dilakukan secara rutin. Sekalipun sedikit, bila dilakukan secara terus menerus akan jadi banyak juga. Peribahasa mengatakan sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Di lain pihak kerutinan ini menunjukkan keseriusan, kekonsistenan, dan keberlanjutan cinta kepada Sang Khaliq. Karena itulah kecintaan Tuhan kepadanya digambarkan oleh Rasulullah SAW : “Ahabbul a’mali ilallahi adwamuha, wain qalla”
Amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah amalan yang paling dawam (langgeng / rutin), sekalipun hanya sedikit.

Seseorang yang sedang mulai berkobar-kobar semangatnya memasuki wilayah religius, ironisnya malah mengagetkan sekujur badan dan jiwanya dengan memberi rutinitas ritual (wirid) yang berlebihan. Padahal justru hal ini adalah godaan nafsu dan syaithan. Sebab membebani diri dengan wirid yang sangat banyak, akan membuatnya lekas bosan, sehingga tak lama kemudian dia akan menghentikan rutinitas itu sama sekali. Efek lain adalah “kejar setoran”, sehingga ditunaikan tidak sesuai standar semestinya, sebab pengharusan itu membuatnya ingin segera rampung berlepas diri. Karena itulah Rasulullah SAW bersabda: “Khudzu minal a’mali ma tuthiiquuna, fainnallaha la yamillu hatta tamillu”, Ambillah amalan-amalan yang kalian akan mampu, sebab sesungguhnya Allah tidak akan bosan kecuali kalian sendiri bosan.

Jadi kesimpulannya, di awal hasrat ibadah ini, memaksakan diri dengan amalan dalam kuantitas besar dan berlebih-lebihan justru akan berefek negatif. Sebaliknya, memilih amalan yang sedang-sedang saja, yang sudah diperkirakan mampu, walaupun hanya sedikit, maka akan lebih terjamin langgeng, konsisten, dan sustainable.

Aspek lain pencegah kejenuhan itu adalah keragaman wirid, atau mem-variasi-kan aktifitas. Amalan-amalan agama ini cukup beragam, misalnya shalat sunnah (rawatib, witir, dluha, mutlak, dan sunnah lainnya), baca Al-Quran, dzikir (tasbih, tahmid, tahlil, istighfar, dll), tafakkur (merenungkan keagungan Allah SWT), belajar (fiqih, hadits, dan ilmu2 lainnya), bershadaqah, dan lain-lain. Seorang ulama terkenal, Ibnu Athaillah Asy Syadzili mengatakan : “Lamma alimal Haqqu minka wujudal milali, lawwana lakath thaa’ah”, Oleh karena Tuhan mengetahui munculnya kebosanan pada dirimu, maka diragamkanlah ketaatan.

Keragaman ini penting, sebab wirid tertentu akan memiliki atsar / efek / pengaruh tertentu yang tidak dimiliki oleh wirid lain. Kalau atsar tadi sudah nampak, jadi terasalah berkah wirid tersebut dalam keseharian. Dengan melulu mengerjakan hanya satu jenis wirid, maka akan diperoleh berkah wirid ini saja, tapi sayang terluput dari berkah wirid lain. Tentu saja berkah wirid ini tidak akan muncul mendadak begitu saja, namun membutuhkan kekonsistenan tadi. Bila seseorang sudah diluaskan hatinya (Jw:dijembarno atine) terhadap Islam, maka dia telah mendapatkan nur dari Tuhannya. “Afaman syarahallahu shadrahu fil Islam, fahuwa ala nurim mir rabbih” (QS 39:22).

Bila prosedur dasar ini telah ditempuh, maka bad mood tadi minimal telah terminimalisir dengan sendirinya. Namun, suatu saat tak urung bm ini akan muncul juga secara tiba-tiba. Bagaimana mengatasinya, Insya Allah akan kita lanjut pembahasan ini. Termasuk dalam hal ini, keengganan ibadah, ketiadaan motivasi dan semangat ibadah, disamping keinginan bermaksiat (walau hanya taraf coba-coba), dan kecenderungan untuk melanggar agama.

Hiroshima, 13 Maret 2006
Wassalam
Agus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s