Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Merefer itu mulia

Leave a comment

Di tengah suasana dingin, di luar, salju lagi turun dengan deras… saya coba menulis sesuatu yg siapa tau mgk berguna.
Kali ini saya ingin membahas sebuah ayat yg baru saja dibahas dalam kajian rutin online dengan Yahoo Messenger tiap Kamis malam Jumat. Soalnya saya tidak tega kalau ayat ini disalahgunakan orang yg tidak bertanggung jawab. Email ini mengambil topik taqlid.

Dalam keseharian ibadah, siapa sih di antara kita yg mampu menguraikan satu persatu dalil ayat maupun hadits yg mendasari ibadah kita itu. Contoh mudah, siapa diantara hadirin ini yang tau ayat/hadits yg mewajibkan takbirotul ihram? Padahal semua pasti akan sependapat kalau saya bilang takbirotul ihram itu rukun shalat, yakni suatu bagian ibadah, yg kalau ditinggalkan, maka keseluruhan ibadah akan batal. Dari manakah kita tahu kalau Allahu Akbar tadi itu termasuk rukun? dalilnya apa? haditsnya mana?
“yah katanya buku-buku, yah sdh begitu itu, tak iye…”

Yah…. itulah taqlid, selama ini kita bertaqlid kepada ulama yg telah “lebih dulu” riset di bidang itu.
Bagi kaum intelek, yg biasa riset, biasa bikin paper, bertaqlid kepada seorang pakar terdahulu bukannya anjuran, bahkan kewajiban. Sebab sangatlah membuang2 waktu, bila kita harus membuktikan satu persatu semua hal yg sdh diteliti dan dibuktikan orang lain di jaman baheula. Untuk tujuan ini, kita biasa dan sangat terbiasa menuliskan nomor referensi paper tersebut, dan mencantumkan nama orangnya di belakang paper. Maksudnya, bagi yg memang tertarik mau membuktikan yah silahkan pergi ke paper tersebut. Adapun paper yg merefer ini tidak dan tidak akan membuktikan pernyataan tsb. Nah dengan metode taqlid inilah, riset di kalangan intelek berkembang luar biasa, hingga saat ini.

Lucunya, dalam hal agama kadang ada orang berpidato mencela orang yg bertaqlid ini, apalagi dengan istilah2 ngeri, dg mencomot ayat macem2, padhal kalau dirunut ternyata ayat2 tadi bukan untuk menghakimi orang taqlid, melainkan untuk orang kafir. Jauh panggang dari api. Lagi pula, yg mencela begitu belum tentu kalau disuruh istimbath (nyari hukum) sendiri bisa jalan. Bukan jaminan, seorang penuduh itu pasti tahu yang apa dituduhkan, malah yang terbanyak adalah akibat salah doktrin. Di doktrin begini begitu, main tembak sana tembak sini, semua neraka, dia saja yg sorga, hehehe…

Semuanya tentu mempunyai keterbatasan, ada yg terbatas waktunya, terbatas kemampuan intelektualnya, terbatas ini itunya, dst, sehingga aturan copy mengcopy hukum dari para ulama pendahulu itulah cara yg mujarab untuk bisa berkembang. Allah SWT berfirman “Fas alu ahladz dzikri in kuntum la ta’lamuun” (QS An-Nahl 43) “Bertanyalah kepada para ulama, para ahli dzikir, bila kau tidak tahu”. Sebab keterbatasan kemampuan tadi perlu menjadi penyebab beratnya beban yg dipikulnya, sebagaimana firman Allah di akhir QS AlBaqarah, “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha”, “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya”.

Ada satu catatan kecil, yakni kadang2 orang saking sulitnya cari dalil untuk menghakimi orang taqlid, sampai2 ayat berikut ini sering dicomotnya. Pingin tahu ayatnya ?
QS Al-Isra’ (17:36)
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”
http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?l=arb&taf=KATHEER&nType=1&nSora=17&nAya=36

Nah… kalau dikatakan bahwa kita dilarang ibadah kalau tidak tahu dalilnya, tentu kita periksa dulu apakah betul itu yg dimaksud oleh ayat ini. Untuk itu mari kita coba buka kitab2 Tafsir yg menjelaskan asal mula dan konteks turunnya ayat ini. Biar tidak main comot untuk nembak saudara sendiri sesama Muslim.

Ternyata dalam tafsirnya, jelas2 ayat ini bukan untuk urusan taqlid2an, melainkan untuk memperingatkan orang yg mau bersaksi agar hati-hati. Kalau memang tidak tau yah jangan bilang tahu. http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?l=arb&taf=TABARY&nType=1&nSora=17&nAya=36
Istilahnya Imam Ibnu Abbas, “La taqfu” itu “La taqul”. Istilahnya Imam Qatadah di tafsir itu, “La taqul raitu walam tara, wasami’tu walam tasma'”, jangan bilang aku sdh liat, padahal belum pernah liat, aku dengar itu kok, padhal belum pernah dengar hal itu. Sebab kalau kamu bersaksi pernah dengar sesuatu, padahal belum pernah, maka kamu nanti bakal dimintai pertanggung jawaban mengenai pendengaranmu itu. Atau sebaliknya, kamu pernah denger itu begini begitu tapi kamu bilang belum pernah dengar, PURA-PURA tidak tahu, nah ini juga bakal ditanyai.

Demikian, mudah2an kejujuran menjadi jiwa kita dalam keseharian.
Kurang lebihnya mohon maaf, ushikum wanafsi bitaqwallah.

Wassalam
Agus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s