Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

kedung cangkring Sidoarjo

Leave a comment

Desa Kedung Cangkring Lahirkan Tokoh Dan Ulama Besar

Desa Kedung Cangkring, Kecamatan Jabon, cukup populer di kalangan masyarakat Sidoarjo. Secara geografis, daerah pinggiran Sungai Porong  berbatasan dengan Gempol, Pasuruan, itu menjadi saksi bisu perjalanan aulia dan ulama berdakwah melalui arus Kali Brantas.

Wilayah strategis melalui jalur transportasi Kali Brantas (Sungai Porong) menuju Surabaya, Madura, dan Pasuruan, zaman dulu dari turun temurun terus melahirkan tokoh dan kiai besar. Sebagian masyarakat menyebut Kedung Cangkring sebagai ”Kota Santri”. Beberapa kiai yang lahir di Kedung Cangkring dan terkenal pada zamannya, di antaranya adalah KH Siroj Kholil, mempunyai anak KH A. Rofiq Siroj, kini Rois Suryah PC NU Sidoarjo. Juga ada KH Arruqot, seorang ulama yang cukup terkenal pada zamannya. Mempunyai menantu KH Hayyun, ia mempunyai anak KH Charor, kini pengasuh Pondok Pesantren Arraudloh, Kedung Cangkring.

Bahkan, dulu sekitar tahun 1980-an, di Kedung Cangkring ada seorang ulama biasa, tetapi terkenal sebagai ahli istikharoh. Ia adalah Kiai Khusnan, yang akrab disapa Pak Khusnan. Dikatakan ulama biasa, karena sehari-harinya ia bekerja mbatik pada mertuanya, KH Asmuni Umar, H Jamian. KH Asmuni, adalah mantan Ketua PC NU Sidoarjo, sebelum KH Abdy Manaf. Menurut cerita KH Asmuni, sosok Pak Khusnan, selain sehari-hari bekerja sebagai pembatik, ia banyak dimintai tolong masayarakat sekitar untuk mengistikhorohkan sesuatu.

Sebelum lahir pemikiran KH Ahmad Siddiq tentang perlunya NU kembali ke Khittah 1926, kondisi NU begitu menegangkan. ”Terjadi kebuntuan komunikasi politik yang begitu hebat antara kubu KH Idham Kholid (Ketua Umum PB NU waktu itu), yang menghendaki NU menjadi partai politik dan kubu KH As’ad Syamsul Arifin (pengasuh Pondok Salafiyah Syafiiyah Asembagus, Situbondo) yang menghendaki NU kembali ke khittah. Nah, di tengah-tengah kebuntuhan itulah, KH Mujib Ridwan (Surabaya), anak dari KH Ridwan Abdullah (pencipta lambang NU), menemui Pak Khusnan, untuk meminta tolong istikhoroh atas persoalan NU yang tidak menentu,” cerita Kiai Asmuni.

Isyarat yang didapat dari istikharoh Pak Khusnan waktu itu, lanjut Asmuni, PB NU harus bersifat tegas dan berani dalam menentukan sikap terhadap sesuatu yang diyakini benar dan manfaatnya jelas bagi NU, meski harus berbeda pandangan dengan salah satu kelompok. ’’Isyaratnya berupa kereta yang melaju kencang. Demikian cerita KH Mujib Ridwan kepada saya. Setelah dari Pak Khusnan, Kiai Mujib Ridwan waktu itu mampir ke saya. Dan cerita panjang lebar hasil istikhorohnya Pak Khusnan, dan kondisi terkini (pada waktu itu) NU,’’ jelasnya.

Hasil istikharoh Pak Khusnan itu kemudian dibawa oleh Kiai Mujib kepada KH As’ad. ’’Itu menjadi salah satu inspirasi atau sumber keberanian PBNU kubu KH As’ad Syamsul Arifin untuk berani menentukan sikap NU kembali ke khittah, selain juga ada pemikiran brilian dari KH Ahmad Siddiq soal khittah NU,’’ terang Kiai Asmuni. KH Mujib Ridwan mengetahui bahwa Pak Khusnan mempunyai keahlian istikharoh dari mbaknya, Fatimah, yang juga tinggal di Kedung Cangkring, yang dinikahi oleh H Masduqi.

Batik Corak Mongolia

Selain banyak melahirkan tokoh dan ulama besar, ada juga yang menyebut Kedung Cangkring sebagai ”kota lama”. Dilihat dari tata letak dan bangunan rumah, sudah dapat diduga bahwa Kedung Cangkring merupakan ”Kota Tua” di Sidoarjo. Rumah-rumah di Kedung Cangkring, telah berdiri berdempet-dempetan, yang mengisaratkan, bahwa sebelum Sidoarjo, di Kedung Cangkring, peradaban telah lahir lebih dulu. Kedung Cangkring menjadi pusat ekonomi atau perdagangan karena letaknya yang dekat dengan kali porong, sebuah jalur transportasi zaman dulu.

H Muhammad Mubin, 68, seorang tokoh di Desa Kedung Cangkring membenarkan pendapat tersebut. Menurutnya, itu bisa dibuktikan dengan beberapa tiang listrik yang berdiri di Desa Kedung cangkring. ”Tiang listrik yang ada di Desa Kedung Cangkring itu  berdiri sejak tahun 1800 an. Disamping itu, di depan dan sebelah timur rumah saya itu berdiri rumah sekitar tahun 1800 an. Dulu, di depan rumah saya itu bentuk rumahnya seperti bangunan China,” tuturnya.

H Mubin, bahkan berpendapat, bahwa Desa Kedung Cangkring itu lahir sebelum penjajahan Belanda Masuk di Kedung Cangkring. Pendapat H. Mubin tersebut dikuatkan melalui cerita Mbahnya, Ma’ani. Ma’ani adalah wanita ras mongolia (orang-orang Kedung Cangkring menyebut China, karena wajahnya yang mirip China) yang lahir dan besar di Kedung Cangkring, yang pada saat itu sebagai juragan Batik di Kedung Cangkring.

Mubin lahir di Kedung Cangkring, 12 April 1940 lalu. H. Mubin kini bekerja sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Ma’arif NU Kedung Cangkring, Avisena. Ibunya bernama Umi Kalsum binti Ma’ani (ras Mongolia yang lahir di Kedung Cangkring sekitar tahun 1800 an). Umi Kalsum menikah dengan H. Jami’an. Hasil pernikahan Umi Kalsum dengan H. Jamian, mempunyai anak 2. 1. H. Mubin, 2. Nadlifah (menikah dengan KH. Asmuni Umar). Mertuanya H. Mubin adalah KH. Abdul Aziz. Disamping Umi Kalsum , Ma’ani juga punya anak namanya Salma.

’’Waktu saya masih kecil, mbah saya, Ma’ani sudah berumur ratusan tahun. Tidak terlalu banyak yang saya tanyakan kepada Mbah saya dulu, karena waktu itu saya masih kecil. Saya hanya mengingat cerita Mbah Ma’ani tentang kenapa orang-orang Mongolia tinggal di Kedung Cangkring, dan beranak pinak sampai sekarang,” cerita H. Mubin mengenang.

Dulu, kata Mubin, sungai porong merupakan jalur perdagangan antar-kerajaan. Pada zaman Kerajaan Kediri (sekitar tahun 1300 an akhir) ketika  dipimpin Raja Jaya Negara, Kerajaan Mongolia yang di pimpin Kaisar Kubilai Khan menyerbu kerajaan Kediri. Namun di tengah perjalanan, pasukan Mongolia dipukul tentara Singosari, yang dipimpin oleh Raja Kartanegara. ” Karena mendapat serangan mendadak dari Kerajaan Singosari itulah akhirnya pasukan Mongol  kocar kacir. Di antaranya ada yang ” terdampar” di Kedung Cangkring, menetap, menikah dan beranak pinak dengan penduduk lokal sampai sekarang,” kata H. Mubin mengenang cerita Mbahnya, Ma’ani.

Ras Mongolia, yang menikah dengan orang lokal yang dimaksud H. Mubin, di antaranya ada yang dari Sidoresmo, Surabaya. Namun H. Mubin tidak bisa merinci satu-satu, siapa saja yang dimaksud orang Sidoresmo, seperti yang diceritakan Mbahnya, Ma’ani. (Pada bagian tulisan dibawah nanti akan dijelaskan ulama dari Sidoresmo yang menetap di Kedung Cangkring). Untuk melacak jejak usia Kedung Cangkring juga bisa dilihat dari batik dengan corak khasnya Mongolia.

Mubin berpendapat, corak batik yang ada di Kedung Cangkring berbeda sekali dengan batik yang ada di Jawa pada umummnya. Batik di Kedung Cangkring motifnya berwarna-warni. Ada warna hijau, kuning dan biru. Menurutnya, motif yang demikian itu dipengaruhi oleh motof-motif dari China, yang banyak dikelola oleh orang-orang Mongolia yang hidup di Kedung Cangkring, sekitar tahun 1800 an. Sedangkan motif batik solo, yang merepresentasikan batik khas jawa, namanya sugan, biasanya bergambar kayu dengan warna coklat.

Mubin  menyebut, batik di Kedung Cangkring, bahkan pernah terkenal se Indonesia.  ”Dulu orang Pekalongan itu belajar batiknya juga dari Kedung Cangkring. Sekitar tahun 1956 saya pernah ke Pekalongan melihat pasar Batik. Di sana saya ketemu beberapa orang tua di Pekalongan. Ia cerita perihal pengalamannya belajar Mbatik di Kedung Cangkring, Jabon Sidoarjo. Bahkan, sampai Pekalongan terkenal sebagai kota batik, sesungguhnya belajarnya di Desa Kedung Cangkring,” paparnya.

Meski banyak peristiwa penting terjadi di Kedung Cangkring, namun sampai saat ini, siapa tokoh yang Mbabat Desa Kedung Cangkring masih tersaput misteri. Itu bisa dimaklumi karena peristiwa – peristiwa penting yang terjadi di Kedung Cangkring umurnya sangat tua, diperkirakan tahun 1300 an akhir. H. Mubin hanya menyebut asal kata Kedung Cangkring berdasarkan makna bahasa.

Menurutnya, Kedung Cangkring berasal dari kata Kedung dan Cangkring. Kedung artinya sungai yang punya kedalaman lebih. Sedangkan Cangkring artinya pohon cangkring, pohon yang banyak durinya, biasanya tumbuh di pinggir-pinggir sungai. ”Jadi dulu, sebelum jadi Desa, Kedung Cangkring itu adalah kedung yang sangat dalam dan banyak buayanya, serta banyak ditumbuhi pohon cangkring dan rawa-rawa. Kemudian ketika Belanda masuk, Kedung tersebut diurug. Itu yang saya tahu, dari sejarah berdirinya Surabaya yang pernah saya baca,” tutur H. Mubin.

KH Mas Muhyiddin

Beberapa orang yang bisa dikategorikan sesepuh yang menempati Desa Kedung Cangkring, selain dari Mongolia, beberapa juga dari Sidoresmo Surabaya. Itu bisa buktikan dengan munculnya nama seorang ulama yang lahir di Kedung Cangkring, yang terkenal pada zamannya. Ia adalah KH. Mas Muhyiddin, anak dari KH. Mas Adnan, dari Sidoresmo. Namun demikian, di Desa Kedung Cangkring, tidak banyak masyarakat sekarang yang mengetahui siapa KH. Mas Muhyiddin. Padahal, dari KH. Mas Muhyiddin inilah yang kelak di kemudian hari banyak melahirkan tokoh maupun Kiai besar.

Siapa sebenarnya KH Mas Muhyiddin? Beberapa sumber yang dihimpun al ikhtibar menyebutkan bahwa KH. Mas Muhyiddin adalah seorang ulama disamping juga seorang pejabat. Ia lebih dikenal sebagai Wedono Kuranten. Disebut  Kuranten karena mengikuti nama istrinya, Kurrotin. KH. Mas Muhyiddin adalah anak dari KH. Mas Adnan. Kini makam KH. Mas Muhyiddin bersama istrinya, berada di belakang Masjid Annur, Desa Kedung Cangkring.

Menurut cerita Saifuddin, 53, KH Mas Muhyiddin adalah seorang ulama yang ahli puasa dan tidak banyak bicara. Saifuddin adalah anak dari Mad Amin, anak nomor 6 nya H. Mahmud bin KH. Mas Muhyiddin. Ahli puasanya KH. Mas Muhyiddin itulah yang kemudian dicontoh oleh Saifuddin. Ia gemar berpuasa sejak kelas 5 SD sampai sekarang, meski menjadi anggota Marinir (kini pensiun dini).

’’KH Mas Muhyiddin adalah seorang ulama yang ahli puasa. Hampir setiap hari ia tidak pernah berhenti puasa. KH Mas Muhyiddin orangnya juga tidak banyak bicara. Yang saya tahu tentang KH Mas Muhyiddin dari orang tua saya, Mad Amin dan Pak De saya, Kiai Mas Mahmud, adalah soal ahli puasanya itu. Dan perjuangannya dalam berdakwa bahkan dari Mojokerto sampai Probolinggo. Dari daerah tersebut, kalau menikahkan anaknya, sering di bawah ke Kedung Cangkring, karena menganggap KH. Mas Muhyiddin sebagai pemuka agama yang paling tinggi. Sedang tahun berapa KH. Mas Muhyiddin lahir, serta menjabat sebagi Wedono pada zamannya Bupati siapa di Sidoarjo, saya tidak mengetahuinya,” kata Saifuddin.

Dari perkawinananya dengan Kurrotin, KH Mas Muhyiddin mempunyai anak lima. 1. H. Mahmud, 2. Mas Muntamah, 3. Masyrifah, 4. Mas Fatmah dan ke 5. Mas Muzammil. Nah dari Mas Fatmah anak ke 4 nya KH. Mas Muhyiddin inilah, yang kemudian melahirkan seorang aulia yang terkenal, Ali Mas’ud, terkenal dengan sebuta Mbah Ud, yang makamnya kini di Desa Pagerwojo Buduran Sidoarjo. Fatmah menikah dengan KH. Said, Pondok Sono Sidoarjo. Dari perkawinannya dengan KH. Said, Mas Fatmah mempunyai 3 anak. 1.Masyrifah, 2. Ali Mas’ud (Mbah Ud) dan 3. Mahfudz.

Mbah Ud menikah dengan Mas Ning Qomariah binti H. Mahmud (anak pertama KH. Mas Muhyiddin). Mbah Ud bahkan tinggal cukup lama di Kedung Cangkring. Namun karena Mas Ning Qomariah meninggal, akhirnya Mbah Ud menikah lagi dengan Nyai Dewi. ”Ketika Mbah Ud meninggal, keluarga Kedung Cangkring meminta supaya Mbah Ud dimakamkan di Kedung Cangkring. Namun dari keluarga Nyai Dewi tidak setuju. Akhirnya keluarga Kedung Cangkring meminta saran kepada Kiai Hamid Pasuruan. Kiai Hamid menyarankan agar Mbah Ud dimakamkan di Pagerwojo, di dekat makam Ibunya, Mas Fatmah,” cerita Saifuddin.

Adapun silsilah Mbah Ud dari jalur Kiai Said adalah sebagai berikut. Ali Mas’ud bin Kiai Said bin Kiai Zarkasi (pendiri Pondok Sono, yang terkenal dengan ilmu sorofnya se Indonesia) bin Mbah Muhyi bin Mbah Mursidi (makamnya di Tambak Sumur Waru) bin Abdurrahman Baqo’. Abdurrahman Baqo’ adalah saudaranya Mbah Syamsuddin, yang makamnya kini di Desa Daleman.  (baca al ikhtibar edisi XXII tahun III Februari 2008 : Rubrik Sejarah Sidoarjo)

Sedangkan dari Mas Muntama melahirkan anak yang bernama Khaina menikah dengan KH. Kholil, dan mempunyai putra bernama KH. Siroj Kholil, seorang ulama besar di Sidoarjo pada zamannya. KH. Rofiq Siroj (kini Rois Surya PCNU Sidoarjo), menuturkan, bahwa abahnya, KH. Siroj Kholil, dengan Mbah Ud itu memanggilnya paman. Gus  Rofiq, panggilan akrab KH. Rofiq Siroj membenarkan kalau Mbahnya adalah Khaina, sedang  buyutnya, KH. Mas Muhyiddin, ia tidak mengetahuinya. ” Waduh, saya kok tidak mengetahui nama buyut saya. Saya dengar nama KH. Mas Muhyiddin itu kok baru dari sampean,” terang Gus Rofiq.

KH Siroj Kholil mempunyai 14 anak, namun yang hidup sekarang tinggal 7. Gus Rofiq adalah anak tertuah. Diantara saudara Gus Rofiq adalah Khodijah, Maimun Siroj dan Abdul Wahab Siroj. Dari Khodijah, adiknya Gus Rofiq, mempunyai anak bernama Shobib, yang menikah dengan Imam Nahrowi, Mantan Ketua DPW PKB yang dibekukan Gus Dur. Kini, Imam Nahrowi, bersama istrinya, Shobib tinggal di Kedung Cangkring, Jabon.

Bahkan, Eman Hermawan, mantan Ketua Umum DKN (Dewan Koordinasi Nasional) Garda Bangsa yang juga dibekukan Gus Dur, sebenarnya juga bagian dari keluarga besar bani KH. Mas Muhyiddin Kedung Cangkring, Jabon. Eman, panggilan akrab Eman Hermawan, yang juga mantan aktivis LKIS itu menikah dengan Siti Maghfiroh binti Qomariah binti Mahfudz bin Mas fatma binti KH. Mas Muhyiddin.

Bani KH Mas Muhyiddin juga melahirkan tokoh PKB Jawa Timur. Ia adalah Misbahul Munir, Pasuruan, kini Sekretaris Dewan Syuro DPW PKB Jatim hasil Muswilub. Misbachul Munir adalah anak dari Nur Izzah binti Masyrifah binti Mas fatma binti KH. Mas Muhyiddin. Disamping itu juga lahir tokoh Toriqoh Jawa Timur. Ia adalah KH. Muhammad Ali Bahruddin (Pasuruan), kini sebagai Ketua Toriqoh Qodiriah Wan Naqsambadiah Jawa Timur. KH. Muhamamad Ali Bahruddin adalah anak dari H. Bahruddin bin Masyrifah binti Mas fatma binti KH. Mas Muhyiddin. n misbachul munir

http://babad2010.wordpress.com/2010/02/01/desa-kedung-cangkring-lahirkan-tokoh-dan-ulama-besar/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s