Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Memuji, menyanjung, mengkultuskan, mencintai, dll

Leave a comment

Kaum Muslimin di Indonesia itu sudah biasa, dalam menghormati dan menyayangi para ahlul bait, yakni keturunan Rasulullah SAW, baik dari jalur Sayyidina Hasan maupun Sayyidina Husain. Hanya saja sebagian kaum muslimin sangat ketakutan, bila ada yang menyebut sikapnya dg kata-kata “kultus”, yakni penghormatannya dianggap sbg pengkultusan. Kalaulah Pujian dan sanjungan kepada Rasulullah SAW maupun keturunannya dianggap mengkultuskan, maka anggapan ini harus dipertemukan dengan AlQuranul dan Hadits. Keduanya telah memuat sekian banyak pujian dan sanjungan yang luar biasa terhadap Rasulullah SAW dan keluarganya.

Bila kita baca Akhir QS At-Taubah, pasti akan bertemu dengan ayat “Laqad jaa akum rasulum min anfusikum AZIZUN alaihi ma anittum HARISHUN alaikum bil mukminina RAUFUN ROHIM”. Silahkan maknanya dilihat sendiri di dalam terjemahan. Namun cobalah perhatikan huruf kapital atau yg tertulis dg UPPER CASE itu. Bukankah itu bagian dari asmaul husna yang dengan “relaNya”, Allah SWT melabelkan gelar dan titel itu kepada baginda Rasulullah SAW.

Bila kita baca ayat “Innaka la ala khuluqin ADHIM”, sesungguhnya engkau (wahai Nabi Muhammad), memiliki akhlak yang sangat AGUNG. Lagi-lagi Allah SWT dg keridlaanNya, melabelkan gelar Adhim untuk menyanjung akhlak Nabi Muhammad SAW.

Tentu saja kata Adhim, Aziz, Rauf, Rahim, dsb dalam ayat tadi berbeda domain dengan yang disifatkan dalam Asmaul Husna. Dimana, sifat2 dalam asmaul husna, berdomainkan khaliq, sedangkan dalam ayat di atas, domainnya adalah makhluq.

Apalagi bila pengkultusan berupa sanjungan2 tadi itu berujung kepada menyampaikan shalawat dan salam, maka itu pas dan sesuai dengan apa yg digariskan Allah SWT.
QS Al-Ahzab menegaskan “Innallaha wamalaaikatahu yushalluna alan Nabiy”, Sungguh Allah SWT dan juga para malaikat senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebagai muslim silahkan kita memuji, menyanjung, mengkultuskan, dan mencintai Rasulullah SAW setinggi apapun, asal jangan disembah saja. Sebab hanya menyembah saja yg tidak diperbolehkan. Bahkan sujudpun diperintahkan oleh Allah SWT kepada N. Adam AS. Juga N. Yusuf AS pun pernah menerima penghormatan serupa.

Adakah penghormatan yang melebihi sujud?

Kalau begitu? Satu saja batasannya, jangan disembah, yakni jangan menjadikannya sbg Tuhan. Kalau selain dari itu, misal mau memuji dan menghormat setinggi apapun kepada Rasulullah SAW, tafaddol, mangga, silahkan, dooozo.

Mau bilang “Anta syamsun anta badrun”, engkau laksana sang matahari, sang rembulan… boleh
Mau bilang “Anta mishbahush shuduri”, engkaulah penerang hati… boleh
Mau bilang “Thala al badru alaina”, sang purnama telah terbit bagi kami… boleeeeh

Kebiasaan memuji Rasulullah di kalangan para shahabat, ternyata disetujui oleh Rasulullah SAW. Bahkan seorang ahli syair Ka’ab Ibn Zuhayr berhasil menggubah qasidah pujian yang sangat indah. Hal ini membuat beliau sangat terkesan, sehingga spontan melepaskan burdahnya dan dihadiahkan ke Ka’ab.

Termasuk pula sanjungan Allah SWT untuk Ahlul bait dg menyatakan mengampuni dosanya dan melabelinya dg sifat kesucian.
“Innama yuridullahu liyudzhiba ankumurrijsa Ahlal Baiti wa yuthahirakum tathhira”, Sesungguhnyalah Allah ingin menghapus dosa kalian, wahai para Ahlal Bait (keluarga Nabi Muhammad), dan juga mensucikan kalian sesuci-sucinya”.

“أما بعد. ألا أيها الناس! فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب. وأنا تارك فيكم ثقلين: أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله. واستمسكوا به” فحث على كتاب الله ورغب فيه. ثم قال “وأهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي”.

Rasulullah SAW bersabda: Amma Ba’du, Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah hamba Allah SWT, utusan Tuhanku (Malaikat Izroil) hampir tiba, maka aku harus memenuhi panggilan-Nya. Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara:
Yang pertama: “Kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk juga pelita, maka beramal dan berpeganglah padanya.” Maka Baginda menyuruh berpedoman dan mengembalikan sandaran pada Kitabullah. Kemudian sabda Baginda,
Yang kedua : “Dan Ahlul-Baitku, aku ingatkan akan Allah perihal Ahlul-Baitku, aku ingatkan akan Allah perihal Ahlul-Baitku, aku ingatkan akan Allah perihal Ahlul-Baitku.” (H.R. Muslim)

Silahkan disearch hadits di atas di kitab Haditsnya Imam Muslim yg terkenal keshahihannya.

Di Indonesia, keluarga (keturunan) Rasulullah SAW atau ahlul bait ini biasa disebut sbg kalangan Habaib atau Sayyid. Di antara mereka adalah Sunan Ampel, Sunan Giri, Maulana Malik Ibrahim, dll. Di tangan merekalah nenek moyang bangsa kita memeluk agama Islam. Mereka berketurunan dg silsilah yang terjaga rapi dg memberikan nama-nama fam/marga, seperti Al-Aydrus, Al-Haddad, As-Seggaf, Barakbah, Basyaiban, dll.

Agaknya kecintaan kaum muslimin kepada ahlul bait, akhir-akhir ini tidak sekuat masa lampau. Disamping karena faktor kurang mengenal, juga karena faktor provokasi yang melabelkan kata-kata kultus tadi itu, belum lagi faktro curiga. Karena itulah Allah SWT mengabadikan perintah cinta ini dalam QS.Asy-Syura 33. “Katakanlah Wahai Nabi Muhammad, aku tidak meminta upah apapun dari kalian atas da’wah risalah yang kusampaikan kecuali agar kalian cinta kepada kaum kerabatku (keluarga Nabi SAW)”.

Ayat di atas turun setelah datangnya rombongan orang yg menawarkan hartanya kpd Rasulullah SAW, berkaitan dg dakwah beliau. Jwb Rasulullah persis spt ayat di atas. Namun ada seseorang yg berkomentar sinis ttg ayat ini, “Rasulullah tidak mau menerima tawaran tadi itu, karena ia mau memaksa kita untuk mencintai keluarganya kalau ia sdh meninggal nanti”.
Komentar sinis ini langsung dijwb oleh Allah SWT dg turunnya QS.Asy-Syura 24.
“Ataukah mereka mengatakan: Dia (Muhammad) telah mengadakan kedustaan terhadap Allah. Jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu. Allah (berkuasa) menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al-Quran). Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Mengetahui segala yang tersembunyi di dalam dada”.
Ngeri betul ayat ini…
Rasullah spontan mengutus shahabat menemui rombongan tadi, benarkah ada orang yg berkata spt itu? Akhirnya dijawab, bahwa ada memang org yg bicara spt itu, namun rombongan itu sendiri tidak menyukainya. Shahabat tadi langsung saja membacakan ayat yg baru saja turun tadi.
Begitu mendengar ayat ini, mereka langsung menangis, menyesali perkataannya.
Selanjutnya turun ayat lagi QS AsySyura 25.
“Dan Dia (Allah SWT) yang berkenan menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan dan (Dia) mengetahui apa-apa yang kalian perbuat”.

Demikianlah, sejarah turunnya ketiga ayat di atas. Jangan sampai komentar sinis terhadap keluarga Rasulullah SAW muncul lagi di dunia ini. Cukuplah dialog interaktif pada ketiga ayat di atas sbg bukti.

Allahumma Shalli Alaa Sayyidina Muhammad.

Wassalam
Agus
P.S. Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari itu adalah salah satu Ahlul Bait dengan fam Basyaiban.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s