Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Jalan Tol Permintaan

1 Comment

Rindu sekali kita bertemu dengan baginda Rasulullah SAW. Dalam keaadan mimpipun, ingin sekali kita bisa berjumpa dengan beliau, memandang keelokan wajah dan keagungan budinya. Berbagai keistimewaan dan mukjizatnya sdh berulangkali kita dengar dan kita baca, baik dari AlQuran maupun hadits.Marilah kita bermohon kepada Allah SWT agar kelak di akhirat, kita dikumpulkan dibawah panji kebesaran yang dibawa oleh beliau, sbgmn doa kita di akhir shalat tarawih, “watahta liwai Sayyidina Muhammadin SAW yaumal qiyamati saairin”.

Tidak hanya semasa hidup saja keistimewaan itu melekat kepada beliau, bahkan setelah wafatnyapun, syafaat beliau tetap diharap dan didambakan segenap kaum muslimin. Di dalam QS 4:64, terdapat riwayat tentang orang2 yang berdosa, yang datang kepada beliau untuk bermohon ampun kepada Allah SWT. Sekalipun istighfar tersebut bisa mereka lakukan sendiri, tanpa datang kepada Rasulullah SAW, dan bisa bermohon kepada Allah SWT secara langsung, namun rupanya ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa perbuatan mengkontak Rasulullah SAW agar dosa kita diampuni adalah termasuk perbuatan yang sangat afdlal. Ini dibuktikan dengan akhir ayat tersebut yang secara eksplisit menyebut kata PASTI (dg huruf lam) yakni lawajadullaha tawwabar rahiima, artinya pastilah mereka mendapati Allah SWT itu maha penerima taubat dan penyayang.

Bunyi ayat tersebut selengkapnya sbb :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Dalam Tafsir Imam Al-Qurthubi:
http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?l=arb&taf=KORTOBY&nType=1&nSora=4&nAya=64
رَوَى أَبُو صَادِق عَنْ عَلِيّ قَالَ : قَدِمَ عَلَيْنَا أَعْرَابِيّ بَعْدَمَا دَفَنَّا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَةِ أَيَّام , فَرَمَى بِنَفْسِهِ عَلَى قَبْر رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَثَا عَلَى رَأْسه مِنْ تُرَابه ; فَقَالَ : قُلْت يَا رَسُول اللَّه فَسَمِعْنَا قَوْلَك , وَوَعَيْت عَنْ اللَّه فَوَعَيْنَا عَنْك , وَكَانَ فِيمَا أَنْزَلَ اللَّه عَلَيْك ” وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسهمْ ” الْآيَة , وَقَدْ ظَلَمْت نَفْسِي وَجِئْتُك تَسْتَغْفِر لِي . فَنُودِيَ مِنْ الْقَبْر إِنَّهُ قَدْ غُفِرَ لَك

Setelah 3 hari dimakamkannya Rasulullah SAW, datanglah seorang Arab dusun (Baduwi). Dia menjatuhkan dirinya ke makam sambil menyiramkan debunya ke kepalanya. Kemudian berkata “Qulta Ya Rasulullah… dst”, Engkau telah katakan kepada kami, Ya Rasulullah, dan kami mendengarkan ucapkanmu itu, engkau telah mendapat penjelasan dari Allah SWT, dan kami mendapatkannya darimu, bahwa ada ayat Allah kepadamu yg berbunyi “Walau annahum idh-dhalamu anfusahum…(spt bunyi ayat di atas)”. Sungguh aku mengakui telah berbuat dhalim ke diriku sendiri, dan skrg aku datang kepadamu agar engkau memintakan ampun untukku. Tiba-tiba dari makam terdengar suara “innahu qad ghufira laka”, sesungguhnya kau telah diampuni.

Dalam Tafsir Imam Ibnu Katsir:
http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?l=arb&taf=KATHEER&nType=1&nSora=4&nAya=64
وَقَدْ ذَكَرَ جَمَاعَة مِنْهُمْ الشَّيْخ أَبُو مَنْصُور الصَّبَّاغ فِي كِتَابه الشَّامِل الْحِكَايَة الْمَشْهُورَة عَنْ الْعُتْبِيّ قَالَ : كُنْت جَالِسًا عِنْد قَبْر النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ أَعْرَابِيّ فَقَالَ : السَّلَام عَلَيْك يَا رَسُول اللَّه سَمِعْت اللَّه يَقُول ” وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسهمْ جَاءُوك فَاسْتَغْفَرُوا اللَّه وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ الرَّسُول لَوَجَدُوا اللَّه تَوَّابًا رَحِيمًا ” وَقَدْ جِئْتُك مُسْتَغْفِرًا لِذَنْبِي مُسْتَشْفِعًا بِك إِلَى رَبِّي ثُمَّ أَنْشَأَ يَقُول : يَا خَيْر مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمه فَطَابَ مِنْ طِيبهنَّ الْقَاع وَالْأَكَم نَفْسِي الْفِدَاء لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنه فِيهِ الْعَفَاف وَفِيهِ الْجُود وَالْكَرَم ثُمَّ اِنْصَرَفَ الْأَعْرَابِيّ فَغَلَبَتْنِي عَيْنِي فَرَأَيْت النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَآله وَسَلَّمَ فِي النَّوْم فَقَالَ : يَا عُتْبِيّ الْحَقْ الْأَعْرَابِيّ فَبَشِّرْهُ أَنَّ اللَّه قَدْ غَفَرَ لَهُ ” .

Dalam riwayat ini, Syekh Uthbiy sedang berada di sisi makam Rasulullah SAW. Tiba-tiba datanglah seseorang dan berkata :”Assalaamualaika ya Rasulallah, Sami’tullaha yaquulu walau annahum idh-dhalamu…(spt ayat di atas)”, Assalaamulaika wahai Rasulullah, aku dengar bahwa Allah SWT berfirman “Walau annahum. idz dzlamu.. (spt ayat di atas)”, maka sekarang aku datang ke hadapanmu berharap agar dosaku diampuni, aku mohon syafaatmu (bantuanmu) ke hadlirat Tuhanku, “Ya khaira man dufinat… (spt syair di hadits tsb)” Wahai sebaik-baik orang yg dimakamkan di lapisan bumi ini, telah harum tanah ini berkat keharumanmu, ingin aku tebus diriku dihadapan qubur yang didalamnya penuh kebaikan, kedermawanan, dan kemurahan ini. Kemudian berlalulah orang tersebut. Berkutnya, saat aku (Syekh Uthbiy) tidur, tiba-tiba aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, dan beliau bersabda : Hai Uthbiy, orang tadi itu betul, beritahulah dia, bahwa Allah SWT telah mengampuninya.

Imam Al-Busyiri mensyairkannya dalam Burdah : Yarabbibil Mushtafa balligh maqasidana, waghfirlana ma madha, ya wasi’al karami. Wahai Tuhanku, dengan berkah Al-Musthafa (Rasulullah SAW), mohon tunaikanlah maksudku, ampunilah dosaku yg telah lampau, wahai Dzat yg maha pemurah.

Imam Abdullah bin Alwi AlHaddad, authornya ratib Al-Haddad mensyairkannya sbb :
Ya sayyidi ya Rasulallah Wahai pemimpinku, wahai utusan Allah
Ya man lahul jaah indallah Wahai orang yang punya kedudukan khusus di sisi Allah
Innal musii’ina qad jauk Sungguh orang yang berdosa ini telah datang kepadamu
lidz dzanbi yastaghfirunallah Berharap kepada Allah SWT agar diampuni dosanya

Wassalaamualaikum W. W.
Agus

Advertisements

One thought on “Jalan Tol Permintaan

  1. ustad agus..
    bgmn hukumnya berdoa dengan perantara ulama?
    misalnya setiap doa diawali dg
    ila hadhrotin nabi SAW…
    ila ruuhi syaih…
    ila ruuhi syaih…
    ila ruuhi syaih…
    dst…

    apa di perbolehkan menurut islam? mohon di beri dalilnya (alquran atau hadist)

    terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s