Agus Zainal Arifin

r.i.h.l.a.h

Menerakakan Orang Lain, Sakti Betul

1 Comment

Kaum muslimin yang dalam beribadah mengikuti petunjuk ulama seringkali husnudh-dhan, bersangka baik, bahwa semua yang diajarkan ulama tersebut 100% mengikuti petunjuk Rasulullah SAW. Hal ini membuatnya beribadah dengan tekun dan khusyu, sambil tetap menjalankan profesinya.

Sebab kalau dalam segala hal kaum muslimin harus mencari hadits beserta sanadnya, dan harus istimbath (mengambil keputusan halal/haram/dsb) langsung dari Alquran dan hadits, maka hal ini akan sangat menyita waktu dan sangat berbahaya bagi orang yang bekal pemahamannya belum komprehensif. Cukuplah bila segalanya dapat kita temukan nash-nashnya dari kitab para alim ulama itu. Tanpa harus riset ulang, merombak dan membuktikan segalanya sampai ke ujung.

Hal demikian sangat mudah dipahami di kalangan para intelektual. Sebab mereferensi hasil riset para pendahulu merupakan kewajiban, untuk bisa menghasilkan riset yang baru. Sehingga memudahkan para pembacanya dalam memahami isi riset itu.

Tiba-tiba datanglah sebuah tuduhan keji, bahwa ummat Islam yang sdh mencurahkan tenaganya untuk belajar dan beribadah ini, diangap sebagai kaum taqlid, yang melanggar agama. Yang diancam dengan hukuman ini itu, dan dilarang oleh ayat ini itu. Dan yang lebih “mengerikan”, ternyata ditunjukkanlah QS Al-Kahfi ayat 103-105 yang dianggap mengancam kaum muslimin yang taqlid ini.

Padahal inti persoalannya adalah hanya karena amalan fiqih sehari-harinya berbeda dengan si provokator. Padahal sudah mafhum, bahwa pada hampir setiap cabang fiqih terdapat khilafiyah.
Hanya saja ironisnya (apesnya) si ahli ibadah ini belum pernah mendengar langsung dari kitab hadits, tentang validitas ibadahnya. Inilah sebab yang membuatnya “terangguk-angguk” merasa bersalah, padahal faktanya tidak begitu.

QS Al-Kahfi 103-105 itu memang dg jelas menunjukkan ada orang yg “capek2 ibadah” tapi dianggep rugi. Semestinya ayat ini dipakai untuk mawas diri dan bukanlah sebaliknya dipakai untuk menyerang orang yg tak sepaham, apalagi sesama kaum muslimin. Membaca ayat ini harap tidak sepotong2 biar jelas.

Ayat 103 menginfokan ada orang beramal tapi rugi. Ruginya apaan sih ? dijelaskan di ayat 104, yakni repot2 berbuat baik di dunia dan nganggep itu semua sdh betul. Siapakah mereka ? dijwb ayat 105 yakni org yg kufur thd ayat Allah dan gak percaya nanti bakal ketemu dg Gusti Allah. Efeknya apa ? dilanjutkan ayat ini, amalan “baik”nya tadi didelete semua, dan diakhirat amal tadi gak masuk hitungan.

Mari dengan hati tenang dan kepala dingin, kita bahas lebih detil. Menurut tafsir Imam Ibnu Katsir dan tafsir Imam Qurthubi (beliau berdua kompak yah…), ayat ini ditujukan untuk yahudi dan nasrani, dg referensi hadits Imam Bukhari. Nah mengapa rugi, yah maklumlah, segala tindak tanduk Nasrani dan Yahudi (toleransi, sedekah, sopan, dll) itu semua tidak dianggap sama sekali oleh Tuhan, padahal mereka di dunia sdh habis banyak (ya duit, waktu, tenaga, dll). Tentu saja itu semua gak dianggep, sebab ada syarat di atas syarat, yg belum terpenuhi, yakni percaya dulu dg ayat2 Tuhan.

Nah kalau tafsir Imam Jalalain, beliau tidak banyak menjelaskan, mungkin dianggap ayat ini sdh jelas definisi dan peruntukannya sbgmn di ayat 105 itu.

Tapi Imam Thabari malah menjelaskannya secara detail dg mengacu ke hadits no. 17625 hingga 16731 (nanatsu des ne), bahwa itu adalah “Alladzinat tabau anfusahum fi amalin”, yakni orang yg ngikuti nafsunya dlm beramal, dijelaskan lebih lanjut, “yabghuna bihi ribhan wafadllan, fanalu bihi athban wa halakan”, yakni maunya jadi untung dan unggul, tapi dapetnya rusak dan hancur. Ada sdkt beda pendapat mengenai siapa orangnya (scr explisit) yg disebut di situ, namun kebanyakan ahli mengatakan bahwa mereka adalah “ruhban wal qusus”, kata jamak dari rahib (pendeta Yahudi) dan qis (pendeta Nasrani).

Walhasil, tak layaklah ayat ini dipakai untuk menembak saudara2 kita sesama muslim, mengenai ibadah dia itu sesat atau tidak, sebagaimana tidak layaklah ibadah kita dituduh orang lain sbg sesat.

Sebenarnya di 2 tafsir itu, tabiin sempat menanyakan apakah ayat itu ditujukan untuk orang khawarij (orang hururiyyah), yakni orang yg sukanya “menerakakan” orang lain, shahabat itu neraka, shahabat ini neraka, yang sorga gue doang. Nah orang yg begini ini sangat berbahaya untuk kejayaan Islam.

Tapi ternyata ayat ini bkn untuk mereka, sebab Shahabat Saad bin Abi Waqas menjawabnya sbgmn di atas.

by the way, ada juga yah orang jaman dulu yang punya pekerjaan iseng “menerakakan” sesama muslim yang beda jalur ibadahnya… 🙂

Wassalaamualaikum Wr. Wb.
Agus

Advertisements

One thought on “Menerakakan Orang Lain, Sakti Betul

  1. Sepertinya di tiap masa dan masyarakat ada fenomena seperti ini ya Pak. Saya baru tahu cerita mengenai sejarahnya dari tulisan Bapak. Tapi ya C’est la vie, itulah hidup. Dinamis tetapi tetap mengarah pada suatu keseimbangan. Terima kasih atas wawasan yg diberikan melalui tulisan Bapak. wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s